Menurutnya, Buru Selatan memiliki beragam masalah yang kompleks mulai dari infrstruktur pembangunan fisik, kesehatan, ekonomi daerah yang tidak baik dan mandiri hingga pendidikan bagi generasi Bursel.
Pasalnya, Bursel ditangan pemimpin istri eks bupati tahanan KPK tersebut selama ini tidak bisa memberikan solusi terbaik dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Namun justru sebaliknya, malah semakin ruwet.
“Akibatnya, pengangguran meningkat karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan, hingga fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta infrastruktur pembangunan daerah tidak mampu diatasi oleh Safitri selama memimpin Bursel,” ungkap Mony.
“Dalam kesempatan ini juga perlu saya tegaskan kembali bahwa kegagalan ini sepenuhnya merupakan kegagalan kepemimpinan dari Safitri itu sendiri. Sehingga Bursel saat ini dikategorikan indeks masyarakat termiskin di Maluku. Padahal Buru Selatan itu kaya akan sumber dayanya yang melimpah,” tegasnya menambahkan.
Di samping itu, Rahmat Mony juga mengkritik kinerja pemerintahan Safitri yang terkesan manja dan tidak mandiri alias hanya mengharapkan dana bantuan pusat melalui APBN untuk melakukan kerja pemerintahannya selama menjabat.
Padahal, lanjut dia, masih banyak inovasi lain yang harusnya dilakukan untuk menumbuhkan roda ekonomi daerah sehingga menghadirkan manfaat untuk kemajuan daerah di pulau Buru bagian selatan tersebut.
“Dengan beragam kegagalan dan ketertinggalan dalam tata kelola pemerintahan serta pembangunan di Buru Selatan, kita semua tentunya baik pemuda, pelajar, hingga aktivis berharap ada perubahan dalam sektor kepemimpinan Buru Selatan di Pilkada 2024 ini. Bagaimana caranya ya dengan memilih pemimpin yang benar-benar mengetahui pokok masalah dari masyarakat itu sendiri, salah satunya kami Insyaallah,” tandasnya.























