JCCNetwork.id-Amerika Serikat dan Inggris dilaporkan tengah mempersiapkan konferensi internasional untuk membahas upaya pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia.
Mengutip laporan Axios pada Jumat (24/7/2026), rencana pertemuan tersebut diungkap oleh dua diplomat Eropa dan dua sumber lain yang mengetahui pembahasannya.
Konferensi diperkirakan berlangsung di London pada pekan depan dengan agenda utama membentuk koalisi internasional guna menjaga keamanan pelayaran komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Meski demikian, waktu pelaksanaan pertemuan itu masih dalam tahap pembahasan dan belum diputuskan secara resmi.
Laporan tersebut menyebutkan sejumlah pejabat pertahanan dan petinggi militer diperkirakan hadir, termasuk Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Koalisi yang dirancang dalam forum tersebut disebut masih bergantung pada kesediaan sejumlah negara peserta, yang mensyaratkan berakhirnya konflik bersenjata di kawasan Teluk Persia sebelum memberikan dukungan.
Dalam pembahasan itu, Amerika Serikat dikabarkan mendorong negara-negara mitra untuk mengerahkan aset keamanan, mulai dari kapal penyapu ranjau, unsur angkatan laut, hingga pesawat nirawak, guna memperkuat pengamanan jalur pelayaran internasional tersebut.
Rencana konferensi muncul setelah situasi keamanan di kawasan kembali memanas.
Sebelumnya, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni yang mengatur penghentian konflik yang dimulai sejak 28 Februari.
Namun, sejak 8 Juli, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah dan menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump selanjutnya menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.






















