Harga Minyak Tembus US$100

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id – Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua bulan setelah serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global.

Kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas seranndekgan tersebut.

- Advertisement -

Insiden itu memperburuk sentimen pasar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent naik 7 persen atau US$6,64 menjadi US$100,71 per barel.

Kenaikan tersebut menjadi yang pertama membawa Brent kembali menembus level US$100 sejak akhir Mei 2026.

- Advertisement -

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 6 persen atau US$5,18 menjadi US$92,01 per barel.

WTI juga kembali diperdagangkan di atas US$90 untuk pertama kalinya sejak 11 Juni 2026.

Reli harga minyak berlangsung selama lima sesi perdagangan berturut-turut seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya jalur distribusi minyak dunia.

Kepala Ekonom Matador Economics, Tim Snyder, menilai serangan terhadap kapal tanker Saudi menambah risiko baru terhadap rantai pasok energi global karena terjadi di salah satu jalur pelayaran strategis dunia.

Sebelumnya, Houthi menyatakan telah memberlakukan blokade terhadap pengiriman minyak Arab Saudi dan mengaku menyerang dua kapal tanker di Selat Bab el-Mandeb.

Media pemerintah Arab Saudi juga melaporkan salah satu kapal mengalami kebakaran setelah diserang saat melintasi Laut Merah.

Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz masih berlanjut.

Garda Revolusi Iran menyatakan seluruh kapal tanker harus berkoordinasi dengan Iran untuk melintasi selat tersebut selama operasi militer Amerika Serikat di kawasan masih berlangsung.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan lalu lintas kapal tanker non-Iran di Selat Hormuz terus menurun akibat meningkatnya risiko keamanan.

Tekanan terhadap pasokan minyak juga diperkirakan meningkat setelah blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran diproyeksikan memangkas ekspor minyak negara tersebut hingga nol barel per hari, dari sebelumnya sekitar 1,5 juta hingga 2 juta barel per hari.

Staunovo menambahkan aktivitas pemuatan minyak di kawasan Teluk dalam sepekan terakhir hanya mencapai sekitar 2,5 juta barel per hari, jauh lebih rendah dibanding rata-rata 6 juta barel per hari dalam 30 hari sebelumnya.

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent berpotensi menembus US$120 per barel pada kuartal IV 2026 apabila gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga 2027 dan meluas ke Selat Bab el-Mandeb maupun Terusan Suez.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, militer Amerika Serikat mengumumkan telah menyelesaikan serangan malam ke-12 berturut-turut terhadap Iran.

Operasi itu dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan akan menghancurkan infrastruktur Iran setiap kali Teheran menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Inggris Rebut Juara Ketiga Piala Dunia FIFA 2026 Usai Kalahkan Prancis 6-4 dalam Laga Spektakuler

JCCNetwork.id – Timnas Inggris berhasil mengamankan peringkat ketiga Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Prancis dengan skor dramatis 6-4 pada laga perebutan tempat ketiga...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER