Dolar AS Menguat di Tengah Konflik AS-Iran

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, didorong meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven di tengah memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam terjadi setelah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sentimen pasar berubah lebih berhati-hati menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan bahwa Iran akan “membayar” atas tewasnya tiga personel militer AS. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran akan memburuknya situasi keamanan kawasan, sehingga mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

- Advertisement -

Mengacu pada data perdagangan internasional yang dikutip dari Xinhua, Selasa (21/7/2026), indeks dolar AS (Dollar Index/DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,19 persen ke level 100,957.

Di pasar valuta asing, euro ditutup melemah menjadi USD1,1415 dibandingkan posisi sebelumnya di USD1,1436. Poundsterling Inggris juga mengalami penurunan ke level USD1,3436 dari sebelumnya USD1,3454.

Penguatan dolar turut terlihat terhadap mata uang utama lainnya. Nilai tukar dolar terhadap yen Jepang naik menjadi 162,50 yen dari 162,45 yen. Terhadap franc Swiss, dolar menguat menjadi 0,8100 franc dari 0,8075 franc.

- Advertisement -

Selain itu, mata uang AS juga terapresiasi terhadap dolar Kanada menjadi 1,4059 dolar Kanada dibandingkan 1,4011 pada perdagangan sebelumnya. Sementara terhadap krona Swedia, dolar naik menjadi 9,6856 dari posisi sebelumnya 9,6497.

Pelaku pasar menilai meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi faktor dominan yang menggerakkan perdagangan valuta asing pada pekan ini. Minimnya agenda data ekonomi Amerika Serikat serta dimulainya periode blackout pejabat Federal Reserve menjelang rapat kebijakan moneter membuat perhatian investor lebih terfokus pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

Sebelumnya, dolar AS sempat mengalami tekanan setelah sejumlah indikator ekonomi menunjukkan inflasi di Amerika Serikat mulai melambat. Data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) maupun indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) memperlihatkan moderasi, sehingga memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.

Data ekonomi lainnya juga menunjukkan penjualan ritel di sektor bahan bakar mengalami penurunan secara bulanan. Di sisi lain, survei Universitas Michigan mencatat sentimen konsumen Amerika Serikat pada Juli mencapai level tertinggi sejak Februari, disertai turunnya ekspektasi inflasi untuk satu tahun mendatang.

Kondisi tersebut sempat memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneternya tanpa perlu melakukan pengetatan lebih agresif dalam waktu dekat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan akhir Juli kini turun menjadi sekitar 16 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan awal bulan yang sempat mendekati 42 persen.

Meski demikian, risiko inflasi kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah harga minyak dunia mengalami kenaikan sebagai dampak meningkatnya ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan harga energi dinilai berpotensi kembali mendorong tekanan inflasi global apabila konflik terus berlanjut.

Beberapa pejabat Federal Reserve juga masih menegaskan bahwa upaya mengendalikan inflasi belum sepenuhnya selesai. Mereka menilai kebijakan suku bunga yang relatif tinggi masih diperlukan hingga inflasi benar-benar bergerak menuju target bank sentral.

Selain perkembangan geopolitik, investor pada pekan ini juga menunggu hasil rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis mendatang. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga acuannya, namun tetap memberikan sinyal kebijakan yang cenderung ketat (hawkish).

Sikap tersebut diperkirakan akan menegaskan bahwa keputusan kebijakan moneter selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan data inflasi dan kondisi ekonomi kawasan Eropa. Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, prospek kebijakan bank sentral, serta pergerakan harga energi, volatilitas pasar keuangan global diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Serangan Israel di Jabaliya Tewaskan Delapan Warga Palestina

JCCNetwork.id – Sedikitnya delapan warga Palestina dilaporkan tewas setelah serangan udara Israel menghantam sebuah pos polisi di kawasan Al-Falouja, sebelah barat Kamp Pengungsi Jabaliya,...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER