Harga Minyak Dunia Turun, Konflik Timur Tengah Masih Membayangi

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat setelah mengalami lonjakan tajam dalam dua pekan terakhir. Koreksi tersebut terjadi di tengah aksi ambil untung investor, namun pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian akibat meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah.

Berdasarkan data Investing.com, Sabtu (25/7/2026), harga minyak mentah Brent untuk kontrak September turun 4,2 persen menjadi USD96,46 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat kontrak September terkoreksi 3,2 persen ke level USD89,22 per barel.

- Advertisement -

Penurunan tersebut mengakhiri tren penguatan yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, secara kumulatif sejak 10 Juli 2026, harga Brent masih mencatat kenaikan sekitar 26,9 persen, sedangkan WTI masih menguat 25,1 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Lonjakan harga minyak dalam dua pekan terakhir dipicu meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama setelah upaya mencapai kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran tidak membuahkan hasil. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak dari kawasan yang menjadi pusat produksi energi dunia.

Ketidakpastian geopolitik juga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Harga energi yang lebih tinggi diperkirakan akan mendorong kenaikan biaya produksi dan transportasi di berbagai negara, sehingga pasar mulai memperhitungkan potensi perubahan arah kebijakan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

- Advertisement -

Sentimen tersebut turut tercermin dari meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang menunjukkan ekspektasi investor terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang tetap ketat apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Selain konflik antara Washington dan Teheran, perhatian pasar juga tertuju pada keamanan dua jalur pelayaran vital dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Kedua jalur tersebut menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim melakukan serangan terhadap kapal tanker milik Arab Saudi di kawasan Laut Merah. Insiden tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai keamanan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi minyak terpenting dunia.

Akibat meningkatnya risiko tersebut, harga minyak Brent pada perdagangan sebelumnya sempat menembus USD100 per barel, menjadi level tertinggi sejak Mei 2026 sebelum akhirnya mengalami koreksi pada penutupan perdagangan Jumat.

Sementara itu, konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyelesaikan operasi serangan malam ke-13 secara berturut-turut terhadap sasaran di Iran pada Kamis waktu setempat.

Sebagai balasan, Iran dilaporkan mengarahkan serangan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Kondisi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan energi global.

Di jalur diplomatik, berbagai upaya mediasi juga belum menghasilkan kesepakatan. Laporan The New York Times menyebut Iran menolak usulan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat dan disampaikan melalui Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi.

Menurut laporan tersebut, Teheran menilai usulan tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan utama terkait kendali atas Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan minyak dunia.

Namun demikian, kantor Perdana Menteri Irak membantah laporan tersebut. Pemerintah Irak menegaskan informasi mengenai penolakan usulan gencatan senjata tidak sesuai dengan fakta dan menyatakan pemberitaan tersebut tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Dengan situasi geopolitik yang masih memanas, analis menilai pergerakan harga minyak dalam waktu dekat akan tetap sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah. Selama ancaman terhadap jalur distribusi energi masih berlangsung, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi meskipun pasar sempat mengalami koreksi pada akhir pekan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Praperadilan Ditolak Total, Status Tersangka Roy Suryo Tetap Sah

JCCNetwork.id- Roy Suryo harus kembali menelan pil pahit setelah upayanya menggugurkan status tersangka melalui praperadilan kandas di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hakim tunggal I Ketut...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER