JCCNetwork. id-Aktor legendaris asal Hong Kong, Jackie Chan, baru-baru ini menjadi sorotan dunia setelah terlihat sangat emosional ketika membahas penderitaan anak-anak di Gaza.
Momen haru itu muncul saat Chan menghadiri acara promosi filmnya dan berbicara tentang video yang memperlihatkan kehidupan anak-anak Palestina di tengah konflik yang berkepanjangan.
Dalam video tersebut, seorang anak Gaza ditanya pertanyaan sederhana: apa yang ingin ia capai ketika dewasa. Jawaban anak itu mengejutkan Chan hingga membuatnya kehilangan kendali atas emosinya.
“Anak-anak di sini tidak pernah bisa tumbuh dewasa,” ungkap Chan, mengenang kata-kata sang anak dengan nada getir. “Begitu saya mendengarnya, air mata saya mulai mengalir. Saya tidak tahan.”
Chan menjelaskan bahwa yang membuat momen itu semakin menghancurkan adalah nada suara anak tersebut tenang, mantap, bahkan hampir acuh tak acuh serta ekspresi wajahnya yang datar.
“Dia sudah terbiasa dengan kematian,” kata aktor berusia 71 tahun itu.
Ia menambahkan bahwa video tersebut memaksanya untuk menghadapi kenyataan pahit: bagi banyak anak di Gaza, gagasan tentang masa depan bukan sekadar abstraksi, tetapi sesuatu yang hampir tidak mungkin dicapai.
Aktor laga dunia itu juga merenungkan bagaimana masyarakat di tempat lain sering takut menua, sementara jutaan anak di Gaza kehilangan kesempatan sederhana itu.
“Orang takut menjadi tua,” ujarnya. “Tetapi mampu menjadi tua sebenarnya adalah berkah yang diberikan kehidupan kepada Anda. Anak-anak itu mungkin tidak akan pernah mencapai berkah itu.”
Lebih lanjut, Chan menekankan bahwa yang paling menghantuinya bukan hanya penderitaan yang terlihat di layar, tetapi juga normalisasi penderitaan itu.
“Ketika seorang anak dapat mengatakan sesuatu seperti itu tanpa emosi, itu memberi tahu Anda segalanya tentang dunia tempat mereka tinggal,” tuturnya penuh haru.
Situasi di Gaza sendiri telah memburuk selama lebih dari dua tahun konflik berskala besar. Data terbaru mencatat lebih dari 71.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 171.000 lainnya terluka, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Infrastruktur vital hancur, lingkungan permukiman rata dengan tanah, dan kondisi kehidupan di wilayah tersebut kini menjadi sangat tidak layak huni. Biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.
Melalui pengalamannya itu, Jackie Chan ingin menyadarkan dunia akan krisis kemanusiaan yang dialami anak-anak Palestina.
“Mereka hidup dalam kondisi yang kita bahkan tidak bisa bayangkan. Kita harus melihat mereka, mendengar mereka, dan memahami bahwa hak untuk tumbuh dewasa adalah sesuatu yang tidak semua anak bisa nikmati,” tegasnya.
Momen emosional ini menjadi pengingat bahwa seni dan tokoh publik dapat menjadi jendela bagi masyarakat global untuk memahami penderitaan yang terlalu sering luput dari perhatian dunia.
Jackie Chan, dengan pengaruhnya yang luas, kembali mengingatkan bahwa tragedi kemanusiaan bukan sekadar statistik, tetapi kehidupan nyata yang memerlukan empati dan aksi.























