JCCNetwork.id-Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service resmi menurunkan peringkat kredit Amerika Serikat dari AAA menjadi AA1, merujuk pada kekhawatiran jangka panjang terkait lonjakan utang publik dan meningkatnya beban bunga.
Penurunan ini diumumkan pada Senin (19/5/2025) dan menjadi pukulan bagi kepercayaan pasar terhadap kesehatan fiskal negara adidaya tersebut.
“Penurunan satu tingkat ini mencerminkan tren jangka panjang peningkatan rasio utang dan pembayaran bunga ke level yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara dengan profil kredit serupa,” tulis Moody’s dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari CNBC, Senin (19/5/2025).
Moody’s memproyeksikan defisit anggaran AS akan meningkat signifikan dalam dekade mendatang, dari 6,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2024 menjadi hampir 9% pada 2035.
Lonjakan dipicu oleh kenaikan belanja jaminan sosial, stagnasi pendapatan, dan tingginya pembayaran bunga utang.
Rasio utang pemerintah terhadap PDB juga diprediksi melonjak dari 98% tahun ini menjadi 134% pada 2035.
Kondisi ini diperparah jika pemotongan pajak dari Undang-Undang Tax Cuts and Jobs Act 2017 diperpanjang, yang diperkirakan menambah defisit primer sebesar US$4 triliun dalam 10 tahun.
Hingga Maret 2025, utang federal AS tercatat sebesar US$36,21 triliun, sedikit turun dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun defisit fiskal tetap tinggi, mencapai US$1,05 triliun atau sekitar Rp17.272 triliun pada April, menurut data dari Bipartisan Policy Center.
Pemerintahan Presiden Donald Trump belum menunjukkan langkah fiskal agresif dalam merespons peningkatan utang.
Meski Trump sempat menyatakan komitmen menyeimbangkan anggaran sejak kembali menjabat Januari lalu, berbagai kebijakan efisiensi dan peningkatan pendapatan belum menghasilkan perubahan signifikan.
Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menanggapi laporan Moody’s dengan menyerang Mark Zandi, kepala ekonom Moody’s Analytics, yang disebutnya sebagai lawan politik Trump.
Namun, Zandi tidak memberikan komentar atas tudingan tersebut.
Langkah penurunan peringkat ini terjadi setelah pasar keuangan ditutup dan berdampak langsung pada kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Analis memperkirakan volatilitas pasar dapat meningkat saat perdagangan reguler dibuka kembali.
Pakar keuangan dari Stanford University, Prof. Darrell Duffie, menilai penurunan peringkat ini adalah peringatan serius bagi Kongres.
“Hal itu pada dasarnya menambah bukti bahwa Amerika Serikat memiliki terlalu banyak utang,” kata Prof. Darrell Duffie, pakar Keuangan Stanford yang sebelumnya menjadi anggota dewan Moody’s.
“Kongres harus mendisiplinkan diri, baik memperoleh lebih banyak pendapatan atau mengurangi pengeluaran,” imbuhnya.



