JCCNetwork.id-Pemerintah Inggris resmi menaikkan tingkat ancaman terorisme ke level “parah” atau parah, menyusul insiden penusukan yang terjadi di kawasan Golders Green, London utara.
Status tersebut merupakan tingkat kedua tertinggi dalam sistem penilaian ancaman nasional dan menunjukkan bahwa serangan teror dinilai sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Peristiwa penusukan berlangsung pada Rabu (29/4) sekitar pukul 11.15 waktu setempat.
Seorang pria bersenjata pisau menyerang warga di dua lokasi berbeda di sekitar Highfield Avenue dan halte bus terdekat.
Dua korban, masing-masing berusia 34 tahun dan 76 tahun, mengalami luka dalam insiden tersebut.
Kepolisian yang menerima laporan segera menuju lokasi dan menangkap seorang pria berusia 45 tahun.
Saat penangkapan, pelaku sempat mencoba melawan petugas sebelum akhirnya dilumpuhkan menggunakan taser.
Penyelidikan awal mengindikasikan bahwa serangan tersebut menyasar komunitas Yahudi setempat.
Unit antiterorisme Inggris kemudian mengambil alih penanganan kasus dan secara resmi mengklasifikasikan insiden itu sebagai aksi terorisme.
Sejumlah laporan media menyebutkan pelaku memiliki riwayat kekerasan serta masalah kesehatan mental, dan sebelumnya pernah masuk dalam program pencegahan radikalisasi pemerintah.
Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, menyatakan peningkatan status ancaman dilakukan berdasarkan analisis intelijen yang menunjukkan potensi serangan lanjutan.
Pemerintah juga mengumumkan langkah penguatan keamanan, termasuk peningkatan perlindungan di fasilitas komunitas Yahudi seperti sinagoga dan sekolah, serta peninjauan pengamanan pada kegiatan publik berskala besar.
Penetapan level “severe” dilakukan oleh Joint Terrorism Analysis Centre (JTAC) di bawah koordinasi MI5.
“sangat mungkin terjadi”. Skala ini berada satu tingkat di bawah “critical”,
Dalam kondisi ini, aparat keamanan akan meningkatkan patroli bersenjata di ruang publik dan memperketat pengawasan terhadap aktivitas mencurigakan.
Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak ada pembatasan mobilitas secara luas.
Aktivitas masyarakat tetap berjalan normal dengan peningkatan kewaspadaan sebagai langkah pencegahan.
Insiden di Golders Green juga kembali menyoroti tren serangan individu atau “lone wolf” yang dinilai semakin dominan di Eropa.
Pola ini melibatkan pelaku tunggal dengan senjata sederhana, namun sulit dideteksi karena tidak terhubung langsung dengan jaringan terorganisasi.
Aparat keamanan menilai pendekatan berbasis komunitas dan pelaporan dini menjadi kunci dalam menghadapi pola ancaman tersebut.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan motif pelaku dan kemungkinan keterkaitannya dengan jaringan ekstremisme.



