JCCNetwok.id- Harga emas dunia diproyeksikan masih memiliki ruang untuk menguat di tengah ketidakpastian geopolitik global dan potensi pergeseran investasi menuju aset safe haven.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi bahkan memperkirakan harga emas dunia berpeluang menembus level USD5.000 per troy ounce pada kuartal III 2026.
“Kalau kita lihat kalau level USD5.000 per troy ounce tercapai di kuartal ketiga, kemungkinan besar untuk logam mulia pun juga akan di atas Rp3 juta,” ujar Ibrahim dikutip.
Selain faktor geopolitik, potensi penurunan harga minyak mentah juga dinilai dapat mendorong kenaikan harga emas. Ibrahim memperkirakan harga minyak berada di kisaran USD65,70 hingga USD83,30 per barel dalam sepekan. Jika harga minyak turun di bawah USD60 per barel, tekanan inflasi di Amerika Serikat berpotensi mereda dan mendorong investor mengalihkan dana dari dolar AS serta minyak mentah ke emas.
Untuk sepekan ke depan, harga emas dunia diperkirakan bergerak pada kisaran USD4.151 hingga USD4.493 per troy ounce, dengan level support perdagangan Senin (10/8/2026) di USD4.279 dan resistance USD4.405 per troy ounce.
Kondisi tersebut turut membuka peluang kenaikan harga logam mulia di dalam negeri. Harga logam mulia sebelumnya ditutup di level Rp2,69 juta per gram. Dalam sepekan, harganya diperkirakan bergerak pada kisaran Rp2,55 juta hingga Rp2,82 juta per gram, dengan peluang menguji resistance Rp2,82 juta.
Khusus perdagangan Senin, harga logam mulia diperkirakan memiliki support Rp2,67 juta per gram dan resistance Rp2,71 juta per gram. Namun, penguatan rupiah terhadap dolar AS berpotensi membatasi kenaikan harga emas domestik karena penguatan rupiah dapat meredam dampak kenaikan harga emas dunia terhadap harga dalam negeri.























