JCCNetwork.id- Harga minyak mentah dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Senin (10/8/2026). Penguatan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang hingga kini masih membatasi kelancaran lalu lintas kapal tanker dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga kembali menjadi perhatian pasar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim melakukan serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi. Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran baru bahwa konflik dapat meluas ke wilayah dan jalur perdagangan energi lainnya.
Mengacu pada data yang dikutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka tercatat naik 1,1 persen menjadi USD84,45 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka menguat 1,2 persen ke level USD78,18 per barel.
Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Harga Brent bahkan telah mengakumulasi kenaikan lebih dari lima persen dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya.
Selat Hormuz Masih Jadi Penentu
Perhatian utama pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu titik strategis dalam perdagangan energi dunia karena menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Harapan terhadap kembali normalnya aktivitas pelayaran sempat muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa Teheran bersama Oman telah mendekati tahap akhir pembahasan mengenai pembangunan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Namun, pernyataan tersebut belum cukup untuk meyakinkan pasar bahwa arus perdagangan minyak akan segera kembali normal.
Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan langsung dibuka sepenuhnya. Masih terdapat sejumlah persoalan yang harus diselesaikan sebelum pelayaran dapat berlangsung secara normal.
Situasi tersebut membuat pasar kembali berhati-hati. Pelaku pasar menilai pembukaan selat secara terbatas tidak serta-merta mampu menghilangkan risiko gangguan pasokan minyak dunia.
Iran juga masih menutup kemungkinan untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat. Pemerintah Iran menyebut dugaan pelanggaran terhadap kesepakatan perdamaian sementara yang dicapai pada Juni menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sikap tersebut.
Teheran sebelumnya mengajukan sejumlah persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Di antaranya penghentian blokade angkatan laut Amerika Serikat, pencabutan sanksi terhadap Iran, serta pemberian kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat konflik.
Di sisi lain, Washington menyatakan ikut terlibat dalam pembahasan mengenai pengelolaan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Namun, pemerintah Iran membantah adanya keterlibatan Amerika Serikat dalam pembicaraan sebagaimana yang disampaikan Washington.
Perbedaan pernyataan antara kedua negara tersebut turut menambah ketidakpastian di pasar energi.
Kapal Tanker Jadi Sasaran
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga belum sepenuhnya kembali normal. Kapal-kapal tanker masih menghadapi risiko ketika melintasi wilayah tersebut.
Salah satu kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) dilaporkan menjadi sasaran serangan di kawasan selat pada akhir pekan. Sebelumnya, ADNOC menyebut tiga kapal tanker miliknya telah mengalami serangan ketika berlayar melalui Selat Hormuz dalam kurun waktu sepekan.
Rangkaian insiden tersebut membuat perusahaan pelayaran dan pelaku industri energi harus meningkatkan kewaspadaan. Gangguan terhadap kapal tanker dapat berdampak langsung terhadap volume minyak yang mampu dikirim dari kawasan produsen utama Timur Tengah.
Bagi pasar global, masalah tersebut bukan hanya menyangkut keamanan kapal. Gangguan pelayaran yang berlangsung lebih lama berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, memperpanjang waktu distribusi, dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak.
Ancaman Meluas ke Laut Merah
Risiko geopolitik juga meningkat setelah kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kilang minyak Jazan milik Arab Saudi yang berada di dekat Laut Merah.
Arab Saudi secara terpisah menyatakan kebakaran di salah satu fasilitas Aramco di Jazan telah berhasil dipadamkan setelah insiden tersebut.
Serangan di Jazan menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa gangguan terhadap infrastruktur energi tidak hanya terkonsentrasi di sekitar Selat Hormuz. Jika konflik meluas ke Laut Merah, jalur alternatif pengiriman minyak dari Timur Tengah juga dapat menghadapi tekanan.
Kelompok Houthi sebelumnya juga mengklaim melakukan serangan besar terhadap pemerintahan Yaman yang mendapatkan dukungan dari Arab Saudi. Perkembangan tersebut berlangsung bersamaan dengan munculnya laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker Saudi di Teluk Aden.
Ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan utara Laut Merah turut menjadi faktor yang diperhitungkan pasar. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dan komoditas internasional.
Pasar Minyak Diperkirakan Volatil
Analis ANZ memperkirakan pasar minyak masih akan menghadapi perdagangan yang penuh gejolak dalam beberapa waktu ke depan.
Harga minyak sebelumnya sempat mengalami tekanan setelah Amerika Serikat menyatakan akan menghentikan serangan terhadap Iran dengan tujuan membuka peluang pembicaraan terkait pembukaan Selat Hormuz.
Namun, sentimen tersebut berubah ketika muncul indikasi bahwa pembukaan selat kemungkinan tidak dilakukan secara penuh. Pembatasan terhadap kapal tertentu dan kondisi keamanan yang belum stabil membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko pasokan.
Harga minyak juga mengalami lonjakan pada Jumat setelah kantor berita semi-resmi Iran, Fars, memberitakan adanya serangan terhadap sejumlah target musuh di kawasan Selat Hormuz. Laporan tersebut muncul setelah terjadi ledakan di sekitar Pulau Qeshm.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa setiap perkembangan militer dan diplomatik di kawasan Timur Tengah dapat dengan cepat memengaruhi pergerakan harga minyak.
Gangguan Laut Hitam Ikut Dipantau
Di tengah meningkatnya risiko di Timur Tengah, sebagian tekanan terhadap pasokan minyak mulai mereda dari kawasan Laut Hitam.
Ukraina disebut telah mencapai kesepakatan untuk tidak menargetkan kapal tanker minyak non-Rusia tertentu serta sejumlah infrastruktur energi strategis di kawasan Laut Hitam yang berperan dalam ekspor minyak mentah Kazakhstan.
Kesepakatan tersebut berpotensi mengurangi salah satu sumber gangguan terhadap pasokan minyak global. Namun, risiko belum sepenuhnya hilang.
Caspian Pipeline Consortium (CPC) masih menghadapi serangan berulang dalam beberapa pekan terakhir. Infrastruktur tersebut memiliki peran penting dalam mengalirkan minyak Kazakhstan menuju pasar internasional.
Gangguan terhadap jaringan CPC berpotensi memengaruhi sekitar 1,8 juta barel minyak per hari yang menjadi bagian dari ekspor Kazakhstan.
Dengan demikian, pasar minyak global kini menghadapi sejumlah titik rawan secara bersamaan. Selat Hormuz masih dibayangi ketidakpastian pembukaan, Laut Merah menghadapi ancaman terhadap pelayaran dan fasilitas energi, sedangkan kawasan Laut Hitam masih menghadapi risiko terhadap infrastruktur ekspor.
Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pelaku pasar harus terus mencermati perkembangan geopolitik. Selama jalur pelayaran strategis belum sepenuhnya aman dan gangguan terhadap fasilitas energi masih terjadi, risiko terhadap kelancaran pasokan minyak dunia diperkirakan tetap tinggi.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan harga minyak kembali menguat pada awal pekan. Pasar tidak hanya memperhitungkan jumlah minyak yang tersedia saat ini, tetapi juga potensi gangguan distribusi apabila konflik dan ketegangan geopolitik kembali meningkat.























