Cadangan Energi Nasional Aman, Pemerintah Jaga Stabilitas Pasokan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Pemerintah memastikan kondisi ketahanan energi nasional tetap berada dalam batas aman di tengah dinamika global yang masih bergejolak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa cadangan energi, baik bahan bakar minyak (BBM) maupun minyak mentah, saat ini berada di atas ambang batas minimum yang ditetapkan pemerintah.

“Saya menyampaikan, melaporkan terkait dengan perkembangan energi nasional kita. Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin, dari semua aspek, alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional,” kata Bahlil seusai rapat terbatas dengan Presiden RI Parbowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.

- Advertisement -

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin. Dalam laporannya, ia menegaskan bahwa ketersediaan BBM, termasuk solar dan bensin, masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurut Bahlil, stabilitas ini tetap terjaga meskipun terjadi tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz. Ia menyebut bahwa dalam hampir dua bulan terakhir, kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap distribusi dan pasokan energi nasional.

“Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian, geopolitik di Timur Tengah tentang Selat Hormuz, kita masih stabil,” ujarnya menambahkan.

- Advertisement -

Selain BBM, pemerintah juga memastikan stok minyak mentah untuk kebutuhan kilang domestik berada dalam kondisi aman. Ketersediaan crude oil dilaporkan tetap berada di atas batas minimum, sehingga operasional kilang tidak mengalami hambatan.

Namun demikian, pemerintah masih menghadapi tantangan pada sektor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Konsumsi LPG nasional tercatat mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton. Ketimpangan tersebut membuat Indonesia masih bergantung pada impor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun.

Bahlil menjelaskan, keterbatasan bahan baku berupa propana (C3) dan butana (C4) menjadi salah satu faktor utama yang menghambat penguatan industri LPG nasional. Pemerintah pun tengah mengkaji berbagai opsi untuk mengurangi ketergantungan impor tersebut.

“Dan saya juga melaporkan bahwa untuk LPG ini kita putar otak terus. Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya,” tutur Bahlil.

Sebagai langkah strategis jangka panjang, pemerintah mempertimbangkan pengembangan energi alternatif, termasuk konversi batu bara berkalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG. Selain itu, opsi pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) juga tengah dibahas sebagai bagian dari diversifikasi energi.

“Ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” kata dia.

Pemerintah menargetkan langkah-langkah tersebut dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi tekanan terhadap neraca impor energi di masa mendatang.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Gol Akhir Tiago Tomas Antar Stuttgart Singkirkan Freiburg

JCCNetwork.id-VfB Stuttgart memastikan langkah ke partai puncak Piala Jerman usai menundukkan SC Freiburg dengan skor 2-1 dalam semifinal yang berlangsung dramatis, Jumat (24/4/2026) dini...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER