JCCNetwork.id-Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong pengembangan pangan biru (blue food) berbasis sumber daya perairan sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis pangan, perubahan iklim, dan iga pertumbuhan jumlah penduduk.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan blue food karena sekitar 70 persen wilayahnya merupakan perairan.
Pangan biru mencakup berbagai bahan pangan yang berasal dari laut maupun perairan tawar, seperti ikan, kerang, dan rumput laut.
Dekan Fakultas Pertanian UGM, Jaka Widada, mengatakan ketahanan pangan pada masa mendatang tidak dapat hanya bertumpu pada sektor pertanian daratan.
Menurutnya, pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan menjadi faktor penting untuk menjamin ketersediaan pangan.
“Kekayaan perairan juga harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Jaka Widada, Minggu (26/7/2026).
Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, menyebut blue food memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
Ia menilai kampanye peningkatan konsumsi ikan perlu terus diperkuat agar hasil perikanan menjadi sumber protein utama masyarakat.
Menurutnya, dukungan kebijakan, riset, dan pemanfaatan teknologi akan menentukan keberhasilan pengembangan sektor tersebut.
“Dengan dukungan kebijakan, riset maupun teknologi, blue food nantinya benar-benar menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kita,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana, mengatakan transformasi sistem pangan biru menjadi kebutuhan mendesak seiring proyeksi jumlah penduduk dunia yang diperkirakan mencapai 9,66 miliar jiwa pada 2050.
Kondisi tersebut diproyeksikan mendorong kenaikan kebutuhan protein ikan hingga 67 persen.
Karena itu, pengembangan blue food harus dilakukan dengan memperhatikan aspek ketersediaan, keterjangkauan, pemenuhan gizi, mutu dan keamanan pangan, serta keberlanjutan.
“Transformasi blue food harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengembangan produk bernilai tambah, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.






















