JCCNetwork.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan imbauan kepada warga beberapa kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih berada di tengah kekeringan akibat pengaruh fenomena El Nino.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II NTT, Rahmattulloh Adji, mengingatkan pentingnya penghematan air di wilayah-wilayah yang belum memasuki musim hujan.
“Kami imbau wilayah yang belum masuk musim hujan agar tetap melakukan upaya penghematan air,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II NTT Rahmattulloh Adji di Kupang, Rabu (3/1/2024).
Menurut Adji, berdasarkan Peta Potensi Awal Musim Hujan di NTT, terdapat 17 Zona Musim (ZOM) yang masih kesulitan mendapatkan hujan. Beberapa daerah di Pulau Sumba, seperti Sumba Barat Daya dan Sumba Barat bagian barat, serta wilayah-wilayah di Pulau Flores seperti Kabupaten Alor, Lembata, dan sebagian Ende, masih terkendala oleh curah hujan yang rendah.
Sementara itu, wilayah Pulau Timor, termasuk Kota Kupang, sebagian Kabupaten Kupang, sebagian Timor Tengah Selatan, dan sebagian Malaka juga mengalami dampak kekeringan.
BMKG menegaskan bahwa pengaruh El Nino menyebabkan penurunan intensitas curah hujan, dan kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga bulan April 2024.
Adji menekankan peran aktif masyarakat dan pemangku kepentingan dalam mengatasi kekeringan ini. Upaya adaptasi seperti penghematan air dan pengaturan pola tanam dianggap penting. Dia juga memberikan saran kepada petani untuk bijak dalam memilih tanaman yang tahan kekeringan.
“Bagi petani agar cermat dalam memilih tanaman untuk usaha tani atau tanaman yang tidak banyak memerlukan air,” katanya.
Meskipun BMKG meramalkan adanya peluang curah hujan pada Dasarian I Januari 2024, dengan prediksi 21 sampai 50 milimeter hujan dan peluang 71 sampai 100 persen, imbauan penghematan air tetap menjadi fokus untuk mengantisipasi kekeringan yang berkelanjutan di NTT.



