DPR Minta Kenaikan BBM Tak Picu Harga Pangan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim mengingatkan pemerintah agar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di tengah masyarakat. Ia menilai stabilitas harga pangan harus tetap menjadi prioritas utama di tengah penyesuaian harga energi.

Pernyataan tersebut disampaikan Rivqy di Jakarta, Senin (20/4/2026), merespons kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan pemerintah melalui PT Pertamina (Persero). Menurutnya, kenaikan harga saat ini hanya terjadi pada BBM dengan kadar oktan tinggi atau Research Octane Number (RON) di atas 92, sehingga dampaknya seharusnya tidak langsung dirasakan oleh sektor kebutuhan dasar masyarakat.

- Advertisement -

Ia menegaskan, pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak menimbulkan efek berantai terhadap harga barang pokok di pasar.

“Pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan ini tidak merembet ke harga-harga kebutuhan pokok. Stabilitas harga pangan dan barang penting lainnya harus tetap dijaga sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus,” ujar Rivqy kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Rivqy mengakui bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi tidak terlepas dari dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi sektor energi dunia. Dalam kondisi tersebut, menurutnya, pemerintah memiliki keterbatasan dalam menahan harga, namun tetap perlu mempertimbangkan waktu dan cara penyampaian kebijakan kepada publik.

- Advertisement -

“Dalam situasi global dan tekanan terhadap sektor energi, kita memahami bahwa penyesuaian harga BBM bisa menjadi opsi yang pada akhirnya harus diambil pemerintah. Namun, momentum dan komunikasi kebijakan ini perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kegelisahan publik,” jelasnya.

Ia menilai, komunikasi yang kurang optimal berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah diminta menyampaikan kondisi riil sektor energi nasional secara terbuka, termasuk terkait ketersediaan stok, beban subsidi, hingga tantangan distribusi BBM di dalam negeri.

“Kami meminta pemerintah menjelaskan secara komprehensif bagaimana kondisi sebenarnya sektor BBM kita saat ini. Ini penting agar masyarakat tidak hanya menerima kebijakan, tetapi juga memahami urgensinya,” tuturnya.

Selain itu, Rivqy juga menyoroti perlunya langkah antisipatif yang terukur dari pemerintah dan BUMN energi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi ke depan. Ia menekankan pentingnya strategi yang matang dalam pengelolaan distribusi serta penguatan cadangan energi nasional guna mengantisipasi gejolak global yang masih berlanjut.

Lebih lanjut, ia berharap kebijakan energi yang diambil pemerintah tetap berpihak pada perlindungan masyarakat, khususnya kelompok rentan, di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi sejak Sabtu (18/4/2026). Berdasarkan data dari aplikasi MyPertamina, harga Pertamax Turbo (RON 98) melonjak signifikan dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter.

Kenaikan juga terjadi pada Dexlite yang naik dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, serta Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter. Sementara itu, harga Pertamax (RON 92) tetap bertahan di Rp12.300 per liter.

Adapun BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan harga. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap berada di level Rp6.800 per liter.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi domestik, terutama jika berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen. Pemerintah pun didorong untuk memastikan kebijakan energi tetap selaras dengan upaya menjaga daya beli masyarakat.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Polisi Selidiki Dugaan Pembobolan Asrama Cortis

JCCNetwork.id-Kepolisian Korea Selatan menangkap dua perempuan berkewarganegaraan China yang diduga memasuki area terlarang di asrama boy group K-Pop, Cortis, di Distrik Yongsan, Seoul. Kantor Polisi...
KONTEN VIDEO
Video thumbnail
Harga Minyak Dunia Naik Turun Akibat Perang, Bahlil Tegaskan BBM Subsidi Tak Naik
05:10
Video thumbnail
AHY Pacu Kawasan KUNCI Bersama untuk Ciptakan Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru
05:53
Video thumbnail
Sudaryono Tegas! Tak Ada Ampun bagi Kepala SPPG yang Terlibat Markup atau Gratifikasi
08:14
Video thumbnail
BGN Tegas Berantas Pungli, Kepala SPPG Peminta Fee Siap-siap Dipecat
08:08
Video thumbnail
Sudaryono Tegas! Dapur MBG yang Ditutup Permanen Tak Lagi Dibayar
08:11
Video thumbnail
BGN Siapkan Sistem Digital untuk Orang Tua Cek Menu Makan MBG
08:19
Video thumbnail
Qodari Tegas! MBG Tetap Jadi Fokus Pemerintah Meski Pimpinan BGN Berganti
09:21
Video thumbnail
Pidato Menggelegar Megawati: Saya Presiden ke-5 RI dan Perempuan Pertama yang Memimpin
13:17
Video thumbnail
Evaluasi Besar-Besaran Benahi BGN Pegawai Diberhentikan dan Ratusan Dapur Ditutup #shorts
01:37
Video thumbnail
Operasi Besar-Besaran BGN Pecat Ratusan Pegawai dan Tutup Dapur MBG Bermasalah
08:20
Video thumbnail
Sampaikan Pesan Keras di Pidato, Megawati : Apa Kalian Tidak Mau Insaf?
13:18
Video thumbnail
Perry Lepas Jabatan, Destry Damayanti Bersiap Kawal Stabilitas Bank Indonesia
11:43
Video thumbnail
Mentri Geram! Pengembangan Perumahan Bermasalah Diberi Deadline 1 Minggu , Unsur Pidana Langsung
11:25
Video thumbnail
Megawati: Akar Rumput Mau Diinjak Mau Dibunuh Suatu Saat Akan Kembali Tumbuh
01:18
Video thumbnail
Kenang Kudatuli, Megawati Ingatkan TNI dan Polri
01:02
Video thumbnail
Megawati: Hei TNI-Polisi Kalian Tuh Sebetulnya Datang dari Mana?
11:56
Video thumbnail
IQ Masyarakat Indonesia Perlu Ditingkatkan, MBG Jadi Salah Satu Solusi
09:11
Video thumbnail
Curhat ke Menteri Ara, Pembeli Rumah Mengaku Dikejar Debt Collector: "Malu Saya, Pak!"
09:47
Video thumbnail
Megawati Tegaskan Tragedi Kudatuli Tak Pernah Dilupakan
12:50
Video thumbnail
BPH Migas Pastikan Minyak Tanah Aman, Daerah Kekurangan Disuplai dari Wilayah Lain
12:12

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER