JCCNetwork.id-Persediaan rudal militer Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan signifikan setelah dilakukan pengalihan senjata presisi dari kawasan Asia Pasifik dan Eropa ke Timur Tengah.
Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai kesiapan pertahanan Washington dalam menghadapi potensi ancaman di wilayah lain, khususnya terkait dinamika dengan China.
Sejumlah pejabat militer AS menyampaikan kekhawatiran atas langkah pemindahan amunisi strategis dalam jumlah besar tersebut.
Mereka menilai kebijakan itu berpotensi menciptakan celah pertahanan baru di kawasan Indo-Pasifik dan Eropa yang selama ini menjadi fokus pengamanan.
Mengacu pada laporan The New York Times, sejak pecahnya konflik di Iran pada 28 Februari 2026, militer AS telah menggunakan sekitar 1.100 rudal jelajah siluman jarak jauh.
Sebagian besar rudal tersebut sebelumnya disiapkan sebagai cadangan untuk skenario konflik berskala besar, termasuk menghadapi China.
Perkiraan internal Departemen Pertahanan AS dan sejumlah pejabat Kongres menunjukkan bahwa penurunan stok mencakup lebih dari 1.000 unit berbagai jenis rudal.
Di antaranya adalah Tomahawk missile, Patriot missile system, serta rudal berbasis darat seperti Precision Strike Missile dan ATACMS.
Untuk mendukung operasi di Timur Tengah, militer AS diketahui memindahkan persenjataan dari sejumlah pangkalan di Asia dan Eropa.
Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan pertahanan di kawasan lain yang juga memiliki tingkat risiko konflik tinggi.
Selain itu, laporan tersebut menyoroti ketergantungan militer AS terhadap sistem persenjataan berbiaya tinggi.
Para analis menilai penggunaan intensif rudal canggih dalam konflik modern dapat dengan cepat menguras persediaan yang ada.
Di sisi lain, kemampuan industri pertahanan AS untuk meningkatkan produksi dalam waktu singkat juga menjadi sorotan.
Departemen Pertahanan memperkirakan diperlukan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan stok senjata yang telah terpakai.
Situasi ini mencerminkan tantangan strategis yang dihadapi Amerika Serikat dalam menjaga keseimbangan kekuatan militernya di berbagai kawasan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.



