JCCNetwork.id- Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98), Willy Prakarsa, melontarkan pernyataan keras sekaligus bernada sindiran terhadap mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang kerap menyuarakan wacana revolusi sosial dan pembangkangan sipil.
Willy menegaskan, wacana revolusi tidak cukup disuarakan lewat teriakan moral tanpa rekam jejak nyata ketika memegang kekuasaan. Ia bahkan mempertanyakan kontribusi Gatot saat berada di pucuk komando TNI.
“Percuma Gatot Nurmantyo teriak-teriak soal pembangkangan kalau dia sendiri tidak mengerti sejarah dan tidak bisa menunjukkan prestasi apa yang pernah dia ukir sejak menjabat Panglima. Gatot Nurmantyo hanya omon-omon,” kata Willy dalam pernyataannya, Jumat (30/1/20256.
Menurut Willy, kondisi ekonomi nasional yang melemah dan lapangan pekerjaan yang semakin tertutup memang menunjukkan gejala krisis struktural. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menggiring opini pembangkangan terhadap negara dan aparat penegak hukum.
Ia justru menegaskan Polri harus tetap berdiri kokoh sebagai penjaga stabilitas negara, bukan dijadikan sasaran delegitimasi politik oleh elite yang gagal memberi solusi konkret.
“Negeri ini tidak butuh omon-omon revolusioner. Yang dibutuhkan adalah langkah nyata, konkret, dan terukur untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman koruptor dan oligarki,” tegasnya.
Willy mengungkapkan, seruan revolusi sosial yang pernah ia dorong kepada sejumlah tokoh sebelumnya termasuk Tyasno Sudarto tidak pernah berujung tindakan nyata. Hal yang sama, menurutnya, kembali terulang pada Gatot Nurmantyo.
Willy juga menyinggung Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya memiliki keberanian politik dan latar belakang kepemimpinan kuat untuk melakukan pembenahan sistem secara konstitusional, bukan lewat kegaduhan jalanan.
“Saya yakin Prabowo siap dan menantang para revolusioneristik. Jangan sampai justru Prabowo yang memimpin revolusi sosial untuk memperbaiki sistem yang sudah bobrok, sementara mereka hanya sibuk berteriak,” ujarnya.
Ia menambahkan, Prabowo dikenal tidak gemar retorika kosong dan lebih memilih kerja nyata. Karena itu, Willy mengingatkan agar wacana revolusi tidak dijadikan alat provokasi yang justru merusak ketertiban dan melemahkan institusi negara, termasuk Polri.
“Ingat pesan Bung Karno: Revolusi belum selesai. Tapi revolusi itu harus diselesaikan dengan keberanian, kecerdasan, dan tanggung jawab bukan sekadar teriak-teriak,” pungkas Willy.


