JCCNetwork.id- Pemerintah menempatkan penyakit hati kronis sebagai salah satu isu kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius menyusul tingginya angka kasus dan kematian yang terjadi setiap tahun di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu penyakit yang menjadi sorotan adalah Hepatitis B, infeksi virus yang menyerang organ hati dan hingga kini belum memiliki terapi yang mampu menyembuhkan pasien secara total.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa Hepatitis B memiliki karakteristik berbeda dibandingkan jenis hepatitis lainnya. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B (HBV) tersebut dapat berkembang menjadi kondisi kronis dan mengharuskan sebagian penderitanya menjalani terapi jangka panjang untuk mengendalikan perkembangan virus di dalam tubuh.
Pernyataan itu disampaikan Budi saat menghadiri talkshow peringatan Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 bertajuk Solid Habits Strong Liver yang berlangsung di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Budi menyoroti besarnya beban penyakit hati kronis secara global. Berdasarkan data yang dipaparkannya, lebih dari 300 juta penduduk dunia saat ini hidup dengan penyakit hati kronis, sementara sekitar dua juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat berbagai komplikasi yang ditimbulkan penyakit tersebut.
“Penyakit yang berkaitan dengan hati ini luar biasa. Di dunia, lebih dari 300 juta orang terkena penyakit hati kronis. Meninggalnya setahun 2 juta orang,” kata Budi.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa penyakit hati masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang tidak bisa dianggap remeh. Sebagian besar kematian akibat penyakit hati kronis dipicu oleh infeksi virus, terutama Hepatitis B dan Hepatitis C.
Budi mengaku sempat terkejut setelah mengetahui bahwa Hepatitis B tidak dapat disembuhkan secara penuh seperti Hepatitis C. Ia bahkan menyebut baru memahami perbedaan mendasar kedua penyakit tersebut setelah mendalami informasi medis mengenai hepatitis.
“Hepatitis C masih dapat diobati hingga sembuh dengan terapi tertentu dalam waktu sekitar 12 minggu. Namun untuk Hepatitis B, pasien harus menjalani pengobatan secara terus-menerus guna menekan aktivitas virus sehingga tidak menimbulkan kerusakan hati yang lebih berat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah terinfeksi Hepatitis B. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami tantangan yang dihadapi para penderita yang harus menjalani pengobatan rutin dalam jangka waktu panjang.
Menkes menjelaskan bahwa pola penanganan Hepatitis B memiliki kemiripan dengan sejumlah penyakit kronis lainnya seperti HIV dan diabetes. Pada ketiga kondisi tersebut, pasien membutuhkan terapi berkelanjutan untuk mengendalikan penyakit dan menjaga kualitas hidup tetap baik.
Selain infeksi virus, faktor lain yang turut berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat penyakit hati adalah konsumsi alkohol berlebihan serta gangguan metabolik seperti obesitas dan perlemakan hati atau fatty liver disease. Kondisi tersebut dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat.
Karena itu, Kementerian Kesehatan menilai langkah pencegahan, deteksi dini, dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan hati harus terus diperkuat. Upaya tersebut dinilai penting untuk menekan angka kasus serta mencegah komplikasi serius seperti sirosis hati hingga kanker hati yang dapat berujung pada kematian.
Budi menegaskan bahwa tingginya prevalensi penyakit hati menjadi alasan pemerintah memasukkan isu tersebut ke dalam prioritas pembangunan kesehatan nasional. Menurutnya, intervensi yang dilakukan sejak dini akan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika penyakit telah memasuki tahap lanjut.
“Sebagai Menteri Kesehatan saya melihat prevalensinya tinggi. Karena itu harus menjadi salah satu prioritas,” katanya.
Pemerintah juga terus mendorong masyarakat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala, mendapatkan vaksinasi Hepatitis B sesuai anjuran, serta menerapkan pola hidup sehat guna menjaga fungsi hati tetap optimal. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko penularan dan mencegah peningkatan jumlah penderita penyakit hati kronis di masa mendatang.























