Pelanggaran Kode Etik Oleh Guru Dalam Proses Belajar Mengajar

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Oleh: Anita Lolo – Mahasiswa Magister Manajemen Konsentrasi School Manajement and Leadership, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

- Advertisement -

Guru merupakan figur sentral dalam proses pendidikan. Ia bukan hanya penyampai informasi atau fasilitator pembelajaran, tetapi juga teladan moral bagi peserta didik. Di Indonesia, profesi guru diatur melalui berbagai regulasi, seperti Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta berbagai kode etik dari organisasi profesi seperti PGRI. Kode etik tersebut berfungsi sebagai pedoman moral dan profesional dalam menjalankan tugas pendidikan agar integritas, keadilan, dan kehormatan profesi tetap terjaga.

Dalam era dimana kepercayaan terhadap profesional menjadi sangat penting, pelanggaran kode etik dalam profesi Bimbingan dan Konseling menjadi isu yang tidak dapat diabaikan. Tingkat ini mencakup berbagai tindakan pelanggaran prinsip dan etika dasar dari profesinya.

 

- Advertisement -

Pelanggaran Kode Etik Guru

Dalam konteks pelanggaran kode etik profesi BK, penting untuk menyorot beberapa kasus yang sering terjadi seperti pelanggaran kerahasiaan, penyalahgunaan kekuasaan, dan konflik kekerasan dengan murid di sekolah. Melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai tantangan ini, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk memperkuat praktik profesional dan menjaga integritas profesi BK.

Dilansir dalam sebuah berita yang telah beredar di media sosial, bahwa seorang Guru Bimbingan dan Konseling memukul murid SMA 11 Kupang hingga berdarah, hal ini merupakan bentuk isu penting yang perlu dihadapi secara bertanggung jawab. Guru merupakan pemimpin yang mempengaruhi karakter generasi muda dan harus menjadi contoh bagi mereka. Tindakan yang telah dilakukan oleh Guru tersebut, tidak mencerminkan tingkah laku seorang konselor yang diwajibkan mematuhi kode etik profesi BK. Dalam mengeksplorasi kasus ini diperlukan menggali akar penyebabnya.

Mele (2019) menuliskan tentang pentingnya kerendahan hati (humility) dan kemuliaan jiwa (magnanimity) dalam kepemimpinan, serta keutamaan lain seperti kejujuran, tanggung jawab, kesetiaan, kebaikan, keberanian, pengendalian diri, keadilan, kepedulian, dan kemurahan hati. Implementasi keutamaan-keutamaan ini menjadikan guru BK bukan sekadar “polisi sekolah”, melainkan sosok pemimpin moral yang menginspirasi perubahan positif pada siswa.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Jubir KPK Dilaporkan ke Polda, Respons Santai Budi Prasetyo

JCCNetwork.id- Laporan hukum yang dilayangkan Direktur Utama PT Sinkos Multimedia Mandiri, Faizal Assegaf, terhadap Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Budi Prasetyo, ke Polda...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER