d. Membangun keterampilan yang dapat membantu mereka bertahan jika terjadi insiden pemukulan lagi. Berlatih diri dalam menghadapi situasi yang tidak aman, mengenal pasti hak dan kewajiban korban, dan mengenal pasti prosedur yang harus dilakukan setelah kejadian.
e. Menyediakan platform pengaduan daring (whistleblowing system) yang mudah diakses dan menjamin keamanan pelapor untuk melaporkan indikasi pelanggaran etik.
f. Mekanisme pengawasan yang lebih kuat, seperti supervisi rekan sejawat wajib dan sistem peninjauan praktik, dapat membantu mengidentifikasi potensi masalah sejak dini.
Kesimpulan
Pelanggaran kode etik oleh guru dalam proses belajar mengajar merupakan masalah serius yang berdampak pada kualitas pendidikan dan perkembangan peserta didik. Pelanggaran dapat berupa kekerasan fisik atau verbal, diskriminasi, manipulasi nilai, ketidakprofesionalan, hingga penyalahgunaan jabatan. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari lemahnya pemahaman etika, tekanan sosial, hingga kurangnya pengawasan institusi.
Melalui pelatihan etika yang berkelanjutan, penguatan sistem pengawasan, serta penegakan sanksi yang tegas, pelanggaran kode etik dapat diminimalkan. Guru sebagai pendidik profesional harus senantiasa menjaga integritas dan memberikan teladan baik agar tujuan pendidikan dapat tercapai dan generasi muda tumbuh secara holistik.
Dalam menangani kasus pelanggaran kode etik, penting untuk menggali akar penyebabnya. Memberikan sanksi tegas kepada pelanggar harus dilakukan demi mencegah kasus serupa terjadi di masa depan. Langkah-langkah yang diusulkan dalam pemberian solusi pada permasalahan mencakup pemahaman akar penyebab pelanggaran, penegakan sanksi yang tegas, memberikan bantuan kepada korban, dan membangun solusi preventif. Dengan demikian, penanganan serius terhadap kasus ini menjadi penting untuk memperkuat praktik profesional profesi BK.















