JCCNetwork.id-Pemerintah Irak mengumumkan penemuan cadangan minyak mentah yang diperkirakan mencapai lebih dari 8,8 miliar barel di wilayah Blok Qurnain, Provinsi Najaf, dekat perbatasan Arab Saudi.
“Cadangan itu diperkirakan melebihi 8,8 miliar barel minyak mentah.”
Temuan tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Irak sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia.
Kementerian Perminyakan Irak menyatakan cadangan baru itu ditemukan di kawasan seluas sekitar 8.773 kilometer persegi yang selama ini menjadi area eksplorasi energi strategis di bagian barat daya negara tersebut.
Hasil pengeboran awal pada sumur eksplorasi Shams-11 menunjukkan potensi produksi minyak mentah ringan dengan kapasitas awal mencapai 3.248 barel per hari.
Temuan tersebut menjadi indikasi adanya sumber daya hidrokarbon dalam jumlah besar di kawasan tersebut.
Penemuan cadangan baru itu terjadi di tengah tantangan yang dihadapi sektor energi Irak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur distribusi minyak, terutama melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama ekspor energi negara tersebut.
Irak saat ini memproduksi sekitar 4,5 juta barel minyak per hari dan menempati posisi sebagai produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Sebelum penemuan terbaru ini, cadangan minyak terbukti Irak diperkirakan mencapai 145 miliar barel.
Untuk mengurangi ketergantungan pada jalur ekspor laut, pemerintah Irak juga tengah mempercepat pembangunan pipa minyak yang menghubungkan Basra dengan Haditha di dekat perbatasan Suriah.
Infrastruktur tersebut dirancang memiliki kapasitas ekspor hingga 2,5 juta barel per hari.
Di sisi lain, kinerja ekspor minyak Irak mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
Data resmi menunjukkan ekspor minyak pada Maret 2026 tercatat sekitar 18,6 juta barel dengan nilai pendapatan mencapai 1,96 miliar dolar AS.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai lebih dari 99 juta barel dengan pendapatan sekitar 6,81 miliar dolar AS.
Penemuan cadangan baru di Najaf diharapkan dapat menjadi tambahan sumber daya strategis bagi Irak sekaligus memperkuat ketahanan sektor energi nasional di tengah ketidakpastian pasar global.






















