Oleh: Odorikus Holang, S. Fil, S.H- Pemerhati Sosial
Akhir tahun 2025 menjadi penutupan tahun yang kelam bagi bangsa Indonesia. Bangsa yang kaya dengan sumber daya alam. Namun minim menjaga alam sebagai ciptaan. Alam selalu menjadi objek. Alhasil, alam tak bersahabat. Hal ini terlihat dari fenomena bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Bencana tersebut memakan korban jiwa. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (8/12/2025), jumlah korban terus bertambah seiring proses pencarian yang masih berlangsung.
BNPB melaporkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 961 jiwa, sementara 293 orang masih hilang. Selain itu, sebanyak 5.000 warga mengalami luka-luka, baik ringan maupun berat akibat terpaan material lumpur, kayu, hingga runtuhan bangunan.
Dari 52 kabupaten/kota yang terdampak, bencana hidrometeorologi ini juga mengakibatkan kerusakan besar pada permukiman dan fasilitas publik. BNPB mencatat 157.600 rumah warga rusak, serta kerusakan pada 1.200 fasilitas umum, 199 fasilitas kesehatan, 534 fasilitas pendidikan, 425 rumah ibadah, 234 gedung dan perkantoran, dan 497 jembatan di berbagai wilayah.
Kesadaran Ekologis
Bencana alam ini menjadi bahan refleksi bagi semua pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah. Alam sejatinya dijaga kelestariannya, bukan dirusak dengan mengeruk isinya untuk kepentingan ekonomi semata.
Manusia dan alam adalah satu entitas yang saling melengkapi. Saling memenuhi. Manusia dan alam semacam anatomi tubuh yang saling melengkapi tanpa pincang. Ketika alam dirusak maka akibatnya jelas merugikan semua.
Karena itu diperlukan pertobatan ekologis. Hal ini perlu pemahaman yang komprehensif bahwa perbuatan manusia mempunyai efek yang signifikan terhadap alam. Pertobatan ekologis adalah mengakui semua entitas hidup dan tak hidup di dalamnya. Seperti tidak menebang pohon hingga gundul.
Pertobatan ekologis bukan soal membuang sampah pada tempatnya, tetapi bagaimana mengubah cara pandang menjadi lebih etis terhadap lingkungan. Lebih tepatnya menciptakan harmoni antara manusia dan alam.























