Etika Penggunaan Teknologi Digital di Kalangan Pelajar

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

Oleh: Nina Suhastuti – Mahasiswa Magister Manajemen Konsentrasi School Management and Leadership, Universitas Sanata Dharma

Pendidikan adalah salah satu aspek yang penting dalam kehidupan manusia karena memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk individu, masyarakat, dan peradaban. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi yang modern ini bisa saja tidak hanya berdampak positif bagi dunia Pendidikan tetapi juga memiliki dampak negatif, yaitu ketergantungan pada gadget, distraksi media sosial, dan kurangnya interaksi sosial langsung sehingga menimbulkan fenomena baru yang berdampak negatif dalam penggunaan gadget, yang berimplikasi pada persoalan etika dan tanggungjawab moral.

- Advertisement -

Berdasarkan Business Ethics in Action: Managing Human Excellence in Organizations oleh Domènec Melé (edisi 2019) tentang “individual moral responsibility” — bahwa setiap orang dalam organisasi (di sini bisa diartikan siswa, guru) memiliki tanggung jawab moral atas tindakannya. Siswa yang menggunakan gadget secara tidak etis (misalnya cyberbullying: membuat grup yang tujuannya mengejek teman tertentu, mengambil foto tanpa ijin dan menyebarkan di media sosia) tetap punya tanggung jawab moral untuk mengatur perilakunya sendiri. Guru dan orang tua berperan sebagai “manajer moral”: membimbing, memberi batasan, dan menyadarkan siswa bahwa penggunaan gadget juga adalah tindakan moral, bukan sekadar kebiasaan teknologi.

Dengan demikian, perkembangan teknologi Pendidikan membawa peluang sekaligus tantangan. Fenomena ini menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya menekankan kompetensi akademik, tetapi juga membangun karakter, tanggungjawab moral dan etika digital bagi seluruh pemangku kepentingan dalam dunia Pendidikan.

Penelitian dan pembahasan lebih lanjut mengenai dampak teknologi terhadap etika siswa, guru, dan lembaga Pendidikan menjadi sangat relevan untuk memastikan penggunaan gadget memberikan manfaat di dunia Pendidikan tanpa mengorbankan nilai-nilai moral.

- Advertisement -

Perkembangan Teknologi Digital Membawa Dampak Besar Terhadap Dunia Pendidikan

Seiring perkembangan teknologi digital, sekolah saat ini berusaha melindungi siswa dari penyalahgunaan gadget dengan menerapkan aturan ketat: siswa dilarang membawa atau menggunakan gadget selama berada di sekolah. Kebijakan ini dibuat untuk menjaga fokus belajar, kedisiplinan, dan suasana sekolah yang kondusif. Ketika berada di kelas, anak-anak benar-benar diarahkan untuk belajar secara langsung melalui buku, diskusi, dan aktivitas pembelajaran yang terstruktur.

Pada awalnya, orang tua menganggap penggunaan gadget sebagai hal wajar. Gadget sering dianggap mampu menenangkan anak, membuat mereka diam, atau memberi hiburan setelah lelah bersekolah. Akan tetapi, semakin lama kebiasaan ini berkembang menjadi ketergantungan. Setiap kali pulang sekolah, anak langsung mencari gadget, bukan mencari orang tua atau buku pelajaran. Teknologi digital pelan-pelan mengambil alih waktu mereka yang seharusnya digunakan untuk belajar, beristirahat, atau berinteraksi.

Akibatnya mulai muncul berbagai dampak terhadap pendidikan. Anak menjadi kurang fokus saat belajar, cepat bosan ketika membaca buku, dan kurang mampu berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas. Kualitas belajar di rumah menurun karena perhatian anak selalu terpecah oleh notifikasi dan hiburan digital. Di beberapa kasus, anak bahkan terbiasa menggunakan teknologi untuk mencari jawaban instan tanpa memahami materi pelajaran. Ketidakseimbangan ini menimbulkan berbagai dampak terhadap pendidikan.

Meski sekolah berusaha keras menanamkan fokus dan kedisiplinan belajar, kebiasaan anak di rumah justru berlawanan. Anak yang terlalu lama menggunakan gadget di rumah cenderung mengalami: penurunan konsentrasi saat belajar, motivasi belajar yang berkurang, karena terbiasa dengan hiburan instan, kesulitan mengikuti pembelajaran di kelas, akibat kurangnya kebiasaan membaca atau mengerjakan tugas secara mandiri, gangguan pola tidur, karena penggunaan gadget pada malam hari, ketergantungan pada hiburan digital, yang membuat tugas sekolah terasa membosankan.Waktu senggang yang seharusnya mendukung perkembangan kognitif, moral, dan sosial, berubah menjadi waktu konsumsi digital tanpa arah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan sekolah, tetapi juga oleh kebiasaan anak di lingkungan keluarga. Ketika sekolah menegakkan disiplin tetapi rumah tidak memberikan batasan, nilai-nilai yang ditanamkan sekolah menjadi tidak efektif. Pendidikan formal dan pendidikan keluarga harus berjalan seiring, bukan saling bertentangan.

Bentuk-Bentuk Penyalahgunaan Gadget di sekolah dan di rumah
Meskipun banyak sekolah menerapkan aturan pembatasan penggunaan gadget, penyalahgunaan tetap kerap terjadi, terutama pada jam istirahat, pada saat kerja kelompok yang diharuskan membawa gadget atau ketika guru tidak mengawasi secara dekat.

Seiring dengan semakin mudahnya akses terhadap teknologi digital, berbagai bentuk penyalahgunaan gadget di kalangan siswa juga semakin sering terjadi. Salah satu bentuk yang cukup mengkhawatirkan adalah penyalahgunaan identitas (identity misuse). Dalam kasus ini, siswa membuat akun palsu di media sosial menggunakan nama dan foto orang lain tanpa izin. Tindakan ini tidak hanya melanggar etika digital, tetapi juga berpotensi merugikan korban secara psikologis dan sosial.

Selain itu, penyalahgunaan teknologi juga terlihat dalam kebiasaan bermain gim saat jam pelajaran berlangsung. Beberapa siswa secara diam-diam membuka gim atau aplikasi hiburan di ponsel mereka ketika guru sedang menjelaskan materi. Akibatnya, perhatian siswa teralihkan, konsentrasi belajar menurun, dan proses pembelajaran di kelas menjadi tidak efektif.
Hal serupa juga terjadi ketika siswa mengakses media sosial di dalam kelas. Bukannya fokus pada pelajaran, siswa justru membuka aplikasi untuk chat, menonton video, atau bahkan membuat konten. Kebiasaan ini bukan hanya mengganggu diri sendiri, tetapi juga dapat mengganggu suasana belajar siswa lain.

Penyalahgunaan teknologi digital juga tampak dalam praktik menyontek dengan memanfaatkan internet. Saat ulangan atau mengerjakan tugas individu, sebagian siswa menggunakan gadget untuk mencari jawaban secara instan. Tindakan ini jelas mengurangi nilai kejujuran akademik dan membuat siswa tidak benar-benar memahami materi yang dipelajari.

Masalah lain yang tidak kalah serius adalah cyberbullying antar teman sekolah. Gadget dan media sosial sering digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan ejekan, komentar merendahkan, atau konten yang mempermalukan teman sekelas. Cyberbullying dapat berdampak buruk pada kesehatan mental korban dan menciptakan lingkungan sekolah yang tidak aman dan tidak nyaman. Selain berbagai bentuk penyalahgunaan tersebut, penggunaan gadget yang tidak terkontrol juga menyebabkan siswa mengabaikan proses pembelajaran. Ketergantungan pada gadget membuat siswa menjadi lebih pasif, kurang fokus, dan minim interaksi dengan guru maupun teman di kelas. Padahal, proses belajar yang efektif membutuhkan keterlibatan aktif, komunikasi langsung, dan konsentrasi penuh.

Di lingkungan rumah, anak-anak umumnya memiliki waktu senggang yang lebih longgar dibandingkan saat berada di sekolah. Pada saat yang sama, tingkat pengawasan orang tua sering kali tidak seketat pengawasan guru di sekolah. Kondisi ini menyebabkan penggunaan gadget di rumah cenderung kurang terkontrol, sehingga memunculkan berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi digital. Salah satu bentuk penyalahgunaan yang paling sering terjadi adalah penggunaan gadget secara berlebihan (overuse). Anak-anak dapat menghabiskan waktu berjam-jam tanpa batasan. Kebiasaan ini berdampak pada berkurangnya waktu belajar, waktu istirahat, serta aktivitas fisik yang seharusnya penting bagi pertumbuhan dan kesehatan anak.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

KPK Periksa ASN Pemkab Pekalongan dalam Kasus Korupsi

JCCNetwork.id-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memeriksa tujuh aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam penyidikan dugaan korupsi pengadaan jasa outsourcing dan kegiatan pengadaan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER