JCCNetwork.Id – Bencana tanah bergerak melanda wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut sejak Selasa (28/1/2025). Akibat kejadian ini, puluhan rumah warga mengalami keretakan parah, memaksa 47 kepala keluarga (KK) atau 176 jiwa mengungsi ke SDN Cowek 2 demi keselamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan melaporkan bahwa tanah bergerak pertama kali terjadi pada Selasa sore hingga Rabu petang (29/1/2025), merusak rumah-rumah warga di Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi. Pergerakan tanah kembali terjadi pada Kamis pagi (30/1/2025), menyebabkan kerusakan semakin parah dan mengancam keselamatan warga.
Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menegaskan bahwa langkah evakuasi diambil untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.
“Memang sejarahnya sudah pernah ada sejak saya pertama dinas di BPBD ini tapi keretakan itu tidak separah yang sekarang. Ini kita pandang sangat membahayakan karena setiap hari itu ada laporan perkembangan keretakan sehingga kita ungsikan ke sekolah,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi di lokasi, Kamis (30/1/2025).
Warga yang terdampak, terdiri dari anak-anak hingga orang tua, telah dipindahkan ke SDN Cowek 2. BPBD Kabupaten Pasuruan telah mendistribusikan bantuan berupa makanan siap saji dan perlengkapan tidur kepada para pengungsi.
Selain merusak rumah, pergerakan tanah juga mengakibatkan bergesernya akses jalan desa, sehingga membahayakan aktivitas warga. Meski demikian, hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa karena warga segera meninggalkan rumah mereka begitu merasakan tanda-tanda pergerakan tanah.
“Memang masyarakat sudah takut ya di rumah mereka, jadi lebih baik kita ungsikan,” ucapnya.
BPBD Kabupaten Pasuruan telah berkoordinasi dengan BPBD Jawa Timur untuk melakukan kajian lebih lanjut terhadap kondisi tanah di wilayah tersebut. Warga diimbau untuk tetap berada di pengungsian hingga ada kepastian bahwa situasi telah kembali aman.
Bencana tanah bergerak ini merupakan yang kedua dalam lima tahun terakhir. Kejadian kali ini disebut sebagai yang paling parah, mengingat jumlah rumah yang terdampak cukup signifikan. Pihak berwenang masih terus memantau perkembangan situasi guna mengantisipasi kemungkinan pergerakan tanah susulan.



