JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terbaru. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal, mulai dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik global hingga menguatnya posisi dolar AS di pasar keuangan internasional.
Berdasarkan data perdagangan valuta asing, rupiah ditutup melemah sekitar 90 poin atau 0,50 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Mata uang Indonesia tersebut berada di kisaran Rp17.929 per dolar AS. Sementara itu, sejumlah platform pemantau kurs menunjukkan nilai tukar rupiah bergerak di sekitar level Rp17.926 per dolar AS.
Di sisi lain, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp17.863 per dolar AS. Perbedaan angka tersebut mencerminkan variasi kurs yang digunakan dalam transaksi dan referensi pasar.
Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS yang masih dianggap sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi tersebut juga tercermin pada pembaruan kurs jual dan beli dolar AS yang dilakukan sejumlah perbankan nasional. Bank-bank besar seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Negara Indonesia (BNI) menyesuaikan nilai tukar mereka mengikuti perkembangan pasar.
Di PT Bank Central Asia Tbk, kurs e-rate dolar AS tercatat dengan harga beli Rp17.917 per dolar AS dan harga jual Rp17.937 per dolar AS. Untuk layanan TT Counter maupun transaksi bank notes, BCA menetapkan kurs beli Rp17.720 dan kurs jual Rp17.970 per dolar AS.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk melalui layanan special rate menetapkan kurs beli dolar AS sebesar Rp17.870 dan kurs jual Rp17.900. Pada layanan TT Counter dan bank notes, bank pelat merah tersebut membanderol kurs beli Rp17.670 dan kurs jual Rp17.970 per dolar AS.
Di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, kurs e-rate dolar AS dipatok pada level Rp17.778 untuk harga beli dan Rp17.920 untuk harga jual. Adapun melalui layanan TT Counter, BRI menetapkan kurs beli Rp17.690 dan kurs jual Rp17.990 per dolar AS.
Sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat kurs special rate dengan harga beli Rp17.910 dan harga jual Rp17.930 per dolar AS. Untuk layanan TT Counter dan bank notes, BNI menetapkan kurs beli Rp17.900 dan kurs jual Rp17.940 per dolar AS.
Pengamat menilai pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memicu peningkatan permintaan terhadap dolar AS. Selama sentimen eksternal belum mereda, tekanan terhadap mata uang negara berkembang diperkirakan masih akan berlangsung.
Meski demikian, pelaku pasar tetap menantikan langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter guna menjaga volatilitas nilai tukar agar tidak mengganggu aktivitas perdagangan dan investasi nasional. Rupiah yang bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi di dalam negeri.






















