Tak Tenggelam oleh Waktu: Eks Korban Lumpur Lapindo Kembali ke Porong untuk Salat Idulfitri

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Suasana haru dan nostalgia menyelimuti area tanggul lumpur Sidoarjo pada Senin (31/3/2025) pagi. Puluhan warga eks korban lumpur Lapindo berkumpul di sana, bukan hanya untuk melaksanakan salat Idulfitri, tetapi juga untuk mengenang masa lalu yang tak akan pernah mereka lupakan.

Hampir dua dekade berlalu sejak peristiwa kelam yang merenggut kampung halaman mereka. Semburan lumpur panas yang pertama kali muncul pada tahun 2006 telah menenggelamkan desa-desa di Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, berpindah ke berbagai daerah demi mencari kehidupan baru. Namun, meski raganya telah berpindah, hati mereka tetap tertinggal di tanah kelahiran yang kini terkubur lumpur.

- Advertisement -

Di momen Idulfitri kali ini, mereka kembali. Sejak pagi, halaman Masjid Nurul Azhar, yang berada tepat di seberang tanggul lumpur di Desa Jatirejo, Porong, mulai didatangi jemaah. Dengan mengenakan pakaian terbaik, mereka berjalan bersama menuju lokasi salat, sebagian besar dengan wajah penuh senyum, meski dalam hati terselip perasaan rindu yang mendalam.

Sholichin, salah satu eks korban lumpur yang kini menetap di Krembung, Sidoarjo, mengungkapkan bahwa dirinya sengaja datang ke lokasi ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk bernostalgia dan bertemu kembali dengan para tetangga serta sahabat lama.

“Salat Id di sini bukan hanya sekadar ibadah, tetapi juga cara kami mengenang rumah, jalanan, serta kenangan yang dulu ada di tempat ini. Kami juga bisa bersilaturahmi dengan teman-teman lama yang kini tersebar di berbagai daerah,”ujar Sholichin dengan mata berbinar.

- Advertisement -

Masrukh, Takmir Masjid Nurul Azhar, mengungkapkan bahwa setiap tahunnya, masjid ini selalu menjadi titik kumpul bagi para eks korban lumpur yang ingin melaksanakan salat Idulfitri bersama. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Malang, Surabaya, Mojokerto, hingga Pasuruan.

“Ini menjadi momen yang sangat berharga. Mereka berkumpul tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk menyambung kembali tali persaudaraan yang sempat terpisah akibat bencana,” kata Masrukh.

Setelah salat, momen kebersamaan semakin terasa. Para warga saling bersalaman, bermaafan, dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka setelah meninggalkan Porong.

Beberapa dari mereka bahkan berjalan menuju area tanggul, memandangi lautan lumpur yang dulunya adalah rumah mereka. Meski yang tersisa kini hanya hamparan lumpur dan bau khas gas bumi, namun kenangan yang mereka miliki tetap hidup dalam ingatan.

Salat Idulfitri di tanggul lumpur ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga simbol keteguhan hati para eks korban lumpur Lapindo.

Meski mereka telah kehilangan rumah, mereka tidak kehilangan jati diri dan persaudaraan. Di tengah hamparan lumpur yang diam membisu, mereka menunjukkan bahwa kenangan dan kebersamaan tak akan pernah bisa tenggelam.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Masih Berlangsung

JCCNetwork.id-Proses evakuasi korban kecelakaan antara commuter line dan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur masih berlangsung hingga Senin (27/4/2026). "Petugas memfokuskan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER