JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (22/9/2026). Pelemahan mata uang Garuda terjadi ketika dolar AS bergerak menguat di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip pada Selasa pagi, rupiah diperdagangkan di level Rp17.874 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 27 poin atau sekitar 0,15 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.847 per dolar AS.
Pergerakan rupiah juga menunjukkan variasi berdasarkan sumber data perdagangan. Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.808 per dolar AS pada waktu yang sama. Angka tersebut menunjukkan penguatan dibandingkan posisi pembukaan perdagangan sehari sebelumnya di level Rp17.740 per dolar AS.
Perbedaan pencatatan tersebut mencerminkan dinamika perdagangan valuta asing yang bergerak cepat mengikuti perubahan permintaan dan penawaran di pasar. Investor juga masih mencermati perkembangan kebijakan moneter global yang berpotensi memengaruhi arus modal dan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Tekanan terhadap rupiah dinilai masih terbuka sehingga mata uang domestik berpeluang kembali mengalami pelemahan.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Menurut dia, salah satu faktor utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar adalah keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Rapat bank sentral domestik berlangsung ketika pasar masih menghadapi dinamika nilai tukar, perkembangan inflasi, serta perubahan arah kebijakan sejumlah bank sentral utama dunia.
Kondisi tersebut membuat keputusan BI menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah. Pelaku pasar akan mencermati sinyal yang disampaikan BI mengenai arah suku bunga dan langkah yang akan ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mengendalikan tekanan inflasi.
Ibrahim menyebut sebagian bank sentral global masih mengambil kebijakan yang cenderung hawkish atau mempertahankan sikap ketat dalam kebijakan moneternya. Di sisi lain, terdapat pula bank sentral yang memilih mempertahankan suku bunga acuan.
“Namun melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan Gubernur Bank Indonesia dalam rapat di hari Rabu akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps,” kata Ibrahim.
Apabila kenaikan suku bunga tersebut terealisasi, kebijakan itu akan menjadi salah satu instrumen untuk merespons tekanan inflasi dan menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain faktor moneter, perhatian investor juga tertuju pada kondisi fiskal Indonesia. Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah posisi defisit anggaran pemerintah yang tetap dijaga di bawah batas tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam rancangan postur RAPBN 2027, pemerintah menetapkan target defisit anggaran sebesar 2,40 persen terhadap PDB. Angka tersebut berada di bawah batas tiga persen yang selama ini menjadi salah satu acuan dalam menjaga disiplin fiskal.
Ibrahim menilai, posisi defisit yang berada di bawah tiga persen memang memberikan sinyal mengenai pengelolaan fiskal. Namun, menurut dia, indikator tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai daya tahan perekonomian nasional.
Kualitas penggunaan anggaran dinilai tetap menjadi faktor penting. Defisit yang terkendali perlu diikuti dengan belanja negara yang produktif agar kebijakan fiskal dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan memperkuat fundamental perekonomian.
“Defisit di bawah tiga persen sering diperlakukan seperti stempel kesehatan fiskal. Angkanya memang penting karena memberi pagar bagi disiplin anggaran. Tetapi pagar bukan rumah,” ungkapnya.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini dengan demikian akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, arah kebijakan The Fed serta kekuatan dolar AS menjadi perhatian utama. Sementara dari dalam negeri, keputusan BI dan perkembangan kondisi fiskal akan menjadi faktor yang turut menentukan sentimen pasar.
Pelaku pasar diperkirakan akan mencermati setiap sinyal kebijakan dari bank sentral maupun perkembangan ekonomi global untuk menentukan posisi investasinya. Kondisi tersebut membuat volatilitas nilai tukar rupiah masih berpotensi terjadi sepanjang perdagangan.
Dengan proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.840-Rp17.900 per dolar AS, pasar akan melihat sejauh mana rupiah mampu bertahan di tengah tekanan eksternal sekaligus menunggu arah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam rapat yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.























