JCCNetwork.id – UEFA menetapkan sejumlah kriteria untuk menentukan posisi klub apabila terdapat dua tim atau lebih yang mengoleksi poin sama dalam klasemen Liga Champions.
Pada fase liga, selisih gol menjadi faktor pertama yang digunakan untuk membedakan peringkat antarklub.
Berdasarkan regulasi UEFA Pasal 18 yang diperbarui pada 3 November 2026, penentuan posisi klub dilakukan melalui sejumlah tahapan dengan urutan kriteria tertentu.
Mekanisme tersebut berlaku selama fase liga maupun setelah seluruh pertandingan pada fase tersebut rampung, meskipun terdapat perbedaan dalam penerapan kriteria lanjutan.
Kompetisi Liga Champions saat ini menggunakan format fase liga yang melibatkan 36 klub.
Setiap peserta memainkan delapan pertandingan dengan seluruh tim tergabung dalam satu klasemen.
Pada akhir fase liga, delapan klub teratas berhak melaju langsung ke babak 16 besar.
Sementara itu, tim yang menempati peringkat kesembilan hingga ke-24 harus melewati babak play-off untuk memperebutkan tiket ke fase gugur.
Mengacu pada regulasi UEFA, selisih gol menjadi pembeda pertama ketika dua klub memiliki jumlah poin yang sama.
Perhitungannya dilakukan dengan mengurangi jumlah gol yang dicetak dengan total gol yang bersarang ke gawang masing-masing tim.
Sebagai contoh, Klub A dan Klub B sama-sama mengumpulkan sembilan poin.
Klub A mencatatkan delapan gol dan kebobolan tiga kali, sedangkan Klub B mencetak tujuh gol dengan jumlah kebobolan yang sama.
Dari catatan tersebut, Klub A memiliki selisih gol plus lima, sementara Klub B hanya plus empat.
Dengan demikian, Klub A menempati posisi lebih tinggi meskipun kedua tim memiliki jumlah poin identik.
Perbedaan jumlah gol yang dicetak belum menjadi pertimbangan apabila selisih gol kedua tim masih berbeda.
Artinya, Klub B yang memiliki catatan 11 gol dan tujuh kali kebobolan tetap berada di bawah Klub A karena selisih golnya hanya plus empat.
Namun, apabila selisih gol kedua klub sama, UEFA menggunakan jumlah gol yang berhasil dicetak sebagai kriteria berikutnya.
Misalnya, Klub C mencetak 10 gol dan kebobolan enam kali. Sementara itu, Klub D menghasilkan delapan gol dengan jumlah kebobolan empat kali.
Kedua klub tersebut sama-sama memiliki selisih gol plus empat.
Jika poin dan selisih gol mereka identik, Klub C berada di posisi lebih baik karena mencetak lebih banyak gol dibandingkan Klub D.
Setelah jumlah gol yang dicetak, UEFA menggunakan beberapa indikator lain secara berurutan, yakni jumlah gol tandang, total kemenangan, serta kemenangan tandang.
Selama pertandingan pekan pertama hingga ketujuh, lima kriteria tersebut menjadi dasar penentuan posisi klub apabila memiliki poin yang sama.
Jika seluruh indikator masih menunjukkan angka identik, tim ditempatkan pada peringkat yang sama dan ditampilkan berdasarkan urutan alfabet nama singkat klub.
Ketentuan berbeda diterapkan setelah seluruh pertandingan fase liga selesai.
UEFA kemudian menggunakan kriteria tambahan untuk memisahkan klub yang masih memiliki catatan identik.
Kriteria lanjutan tersebut meliputi performa kolektif lawan yang dihadapi, catatan disiplin, hingga koefisien klub.
Seluruh indikator diterapkan secara berurutan apabila kriteria sebelumnya belum menghasilkan perbedaan peringkat.
Dengan mekanisme tersebut, posisi klub di klasemen Liga Champions tidak hanya bergantung pada jumlah poin.
Produktivitas gol, catatan kemenangan, serta sejumlah indikator tambahan turut menentukan urutan akhir peserta.
Untuk memastikan posisi terkini setiap klub, pembaca dapat merujuk langsung pada klasemen resmi yang diterbitkan UEFA.
Adapun simulasi Klub A hingga Klub D dalam penjelasan ini hanya merupakan contoh perhitungan dan bukan gambaran hasil pertandingan sebenarnya.
























