JCCNetwork.id – Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan depan seiring ketidakpastian hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Eskalasi konflik di Timur Tengah serta potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga logam mulia.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan.
Dalam skenario terburuk, harga emas dunia diprediksi dapat turun hingga US$ 3.737 per ons troi sepanjang pekan depan.
Ibrahim mengatakan, harga emas berpeluang terkoreksi ke level US$ 3.818 per ons troi pada Senin (2/11/2026).
Apabila tekanan jual berlanjut, harganya diperkirakan dapat menyentuh US$ 3.737 per ons troi pada akhir pekan.
“Jika kembali terkoreksi pada perdagangan Senin (2/11/2026), harga emas bisa turun ke US$ 3.818 per ons troi. Kemudian dalam satu pekan sampai Sabtu, penurunan harga emas bisa ke level US$ 3.737 per ons troi,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026),dikutip.
Meski demikian, peluang pemulihan harga emas masih terbuka.
Ibrahim memperkirakan harga logam mulia tersebut dapat naik ke US$ 3.951 per ons troi pada awal pekan.
Jika tren penguatan berlanjut, harga emas berpotensi mencapai US$ 4.003 per ons troi dalam sepekan.
“Namun, apabila harga emas dunia pada Senin naik, prediksinya di US$ 3.951 per ons troi. Kemudian, kalau menguat dalam satu pekan, maka bisa menuju US$ 4.003 per ons troi,” paparnya.
Perkembangan negosiasi AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan arah perdagangan emas.
Kedua negara diketahui masih menjalani proses perundingan dengan mediasi Pakistan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Ibrahim menilai situasi tersebut belum menunjukkan tanda-tanda meredanya konflik.
Di tengah berlangsungnya upaya diplomasi, aksi militer AS terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz dan serangan balasan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut turut meningkatkan ketidakpastian geopolitik.
Menurut dia, spekulasi mengenai kemungkinan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada 3 November juga menjadi perhatian pasar.
Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan turut menambah risiko geopolitik global.
Selain faktor konflik, kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) juga berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas.
Ibrahim menilai inflasi AS yang masih tinggi dapat membuka peluang bagi bank sentral tersebut untuk kembali menaikkan suku bunga.
“Pekan ini kita lihat masih ada pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinegosiasi oleh Pakistan. Tetapi di sisi lain Amerika melakukan penyerangan terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz. Ini membuat ketegangan tersendiri, kemudian Iran juga melakukan serangan balik terhadap kapal-kapal yang ada di Selat Hormuz,” kata Ibrahim.
Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai dampak kenaikan harga minyak terhadap harga solar di AS turut menjadi perhatian.
Jika kenaikan harga energi berlanjut dan mendorong inflasi, The Fed berpeluang mempertimbangkan penyesuaian suku bunga pada November atau Desember.
Ibrahim menjelaskan, kombinasi kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, dan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor mengalihkan asetnya ke dolar AS dan obligasi yang menawarkan imbal hasil atau yield lebih menarik.
Dengan demikian, arah pergerakan harga emas pada pekan depan akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi AS-Iran, situasi keamanan di Selat Hormuz, serta keputusan kebijakan moneter The Fed.
“Melihat koreksi harga emas dunia disebabkan oleh spekulasi kenaikan suku bunga yang kemungkinan besar masih akan terjadi, di sisi lain juga permasalahan konflik di Selat Hormuz membuat harga minyak tinggi, inflasi tinggi, suku bunga tinggi sehingga investor akan mengalihkan dananya dari emas ke dolar maupun yield obligasi,” tambahnya.






















