JCCNetwork.id- Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih membayangi kesehatan masyarakat meskipun kondisi kabut asap mulai berangsur menghilang. Jumlah warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat terus bertambah hingga mencapai 13.412 kasus.
Data Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya menunjukkan, angka tersebut mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan pertengahan Oktober 2026 yang masih berada di angka 11.276 kasus. Dengan demikian, terdapat penambahan sebanyak 2.136 kasus dalam periode tersebut.
Peningkatan kasus ISPA ini menjadi perhatian pemerintah daerah, mengingat Palangka Raya sebelumnya mengalami paparan kabut asap akibat karhutla selama kurang lebih empat bulan. Kondisi tersebut diduga turut berkontribusi terhadap meningkatnya gangguan kesehatan, khususnya penyakit yang menyerang saluran pernapasan.
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui penurunan kualitas udara, tetapi juga menimbulkan kerugian material bagi masyarakat. Sedikitnya 12 rumah warga dilaporkan ikut terbakar akibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan tersebut.
Sementara dari sisi kesehatan, ratusan warga sempat membutuhkan penanganan medis di rumah sakit karena mengalami gangguan pernapasan. Bahkan, hingga kondisi kabut asap mulai membaik, sejumlah pasien masih harus menjalani perawatan intensif.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, mengungkapkan bahwa dari total 13.412 kasus ISPA yang tercatat, sebanyak 304 pasien pernah menjalani rawat inap di rumah sakit.
Menurut Riduan, hingga saat ini masih terdapat 10 pasien yang belum diperbolehkan pulang dan harus melanjutkan perawatan medis. Sebagian pasien tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit asma sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa dampak paparan asap karhutla masih berpotensi dirasakan masyarakat meskipun secara kasatmata kabut asap sudah mulai berkurang.
Riduan menegaskan, Dinas Kesehatan tidak menghentikan pemantauan setelah kondisi udara membaik. Pemeriksaan kesehatan tetap dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi warga sekaligus mengantisipasi munculnya gangguan kesehatan lanjutan.
Upaya tersebut dilaksanakan melalui layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang ditempatkan di sejumlah titik sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
“Pascabencana tetap kita pantau kondisi masyarakat melalui cek kesehatan gratis melalui spot-spot yang mereka membutuhkan,” ujar Riduan.
Selain menyasar masyarakat umum, pemeriksaan kesehatan juga difokuskan kepada kelompok anak-anak dan pelajar yang dinilai perlu mendapatkan perhatian setelah mengalami paparan kabut asap.
Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya melakukan pemeriksaan terhadap siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan munculnya gangguan pernapasan maupun keluhan kesehatan lainnya setelah periode panjang paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
Lingkungan sekolah menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian karena aktivitas belajar mengajar melibatkan banyak anak dalam satu kawasan. Melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala, kondisi siswa diharapkan dapat terpantau sehingga keluhan kesehatan bisa segera ditindaklanjuti.
Pemerintah Kota Palangka Raya juga meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi kesehatan meskipun kabut asap mulai menghilang. Warga diimbau tetap menjaga kebugaran tubuh dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
Peningkatan kasus ISPA hingga lebih dari 13 ribu menjadi pengingat bahwa dampak bencana karhutla tidak serta-merta berakhir ketika api berhasil dikendalikan dan kualitas udara mulai membaik.
Karena itu, pemantauan kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan anak-anak usia sekolah, akan terus dilakukan sebagai bagian dari penanganan pascabencana karhutla di Kota Palangka Raya.























