JCCNetwork.id- Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengungkapkan bahwa negaranya tengah mengembangkan sistem senjata laser berbasis ruang angkasa yang dirancang untuk mampu menargetkan satelit. Menurutnya, teknologi tersebut diharapkan menjadi kemampuan strategis baru yang belum dimiliki negara lain.
Dalam keterangannya kepada wartawan pada Senin, Katz menyebut pengembangan sistem ini bertujuan menempatkan Israel sebagai negara terdepan dalam kemampuan militer di ruang angkasa.
Ia menilai teknologi tersebut akan memberikan keunggulan bagi Pasukan Pertahanan Israel (IDF), terutama dalam menghadapi pihak-pihak yang memiliki sumber daya militer besar.
Pernyataan itu dipandang sejumlah media Israel sebagai isyarat yang mengarah kepada Iran.Isu potensi kembali meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran juga menjadi salah satu topik utama dalam pengarahan tersebut. Saat ini, Amerika Serikat, Rusia, dan China diyakini telah memiliki berbagai kemampuan anti-satelit.
Sementara itu, sistem pertahanan rudal Arrow 3 milik Israel juga diketahui memiliki kemampuan untuk mencegat target di luar atmosfer.
Meski demikian, pengembangan senjata antariksa tetap menjadi isu yang sangat sensitif di tingkat internasional.
Sejak era Perang Dingin, berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah persenjataan ruang angkasa dan menghindari kawasan tersebut berubah menjadi medan konflik.
Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi terjadinya Sindrom Kessler, yakni skenario ketika penghancuran satelit memicu tabrakan berantai puing-puing di orbit rendah Bumi.
Kondisi itu dikhawatirkan dapat membuat orbit menjadi berbahaya dan sulit digunakan selama bertahun-tahun hingga puluhan tahun.
Laporan menyebutkan bahwa proyek laser antariksa Israel kemungkinan akan memanfaatkan teknologi yang juga digunakan dalam pengembangan sistem pertahanan udara Iron Beam.
Rencana tersebut kembali mengingatkan pada teori yang pernah ramai diperbincangkan mengenai apa yang disebut sebagai “laser ruang angkasa Yahudi”.
Isu tersebut sempat menjadi sorotan di Amerika Serikat pada 2021 ketika sejumlah media menelusuri unggahan lama beberapa anggota Partai Republik yang baru terpilih, termasuk Marjorie Taylor Greene dari Georgia.
Pada 2018, Greene pernah membagikan unggahan yang mengklaim kebakaran hutan di Amerika Serikat dipicu oleh “laser atau sinar cahaya biru” dari luar angkasa.
Dalam unggahan itu, ia juga menyebut “Rothschild Inc”, yang dianggap merujuk pada keluarga Rothschild.
Greene kemudian menyatakan bahwa saat membuat unggahan tersebut ia tidak mengetahui bahwa keluarga Rothschild beragama Yahudi.
Dalam perkembangan politik terbaru, Greene juga diketahui berselisih dengan Presiden Donald Trump terkait sejumlah kebijakan, termasuk keputusan Trump melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari melalui operasi gabungan bersama Israel.
Ia bersama sejumlah pendukung garis keras Partai Republik menilai langkah tersebut bertentangan dengan agenda “America First” yang selama ini diusung Trump serta dianggap sebagai pelanggaran terhadap kepercayaan para pemilihnya.
Jika diinginkan, saya juga dapat menyesuaikan narasi ini agar lebih bergaya jurnalistik media nasional seperti Kompas, Antara, Tempo, atau CNN Indonesia.



