Kebakaran Bromo Meluas, 520 Hektare Terdampak

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, terus menjadi perhatian petugas gabungan. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencatat area yang terdampak kebakaran kini mencapai sekitar 520 hektare.

Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan catatan sebelumnya yang berada di kisaran 176 hektare. Perluasan wilayah terdampak terjadi setelah api kembali berkobar pada Sabtu (8/8) malam dan menjalar ke sejumlah bagian kawasan Gunung Bromo.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, kobaran api terbaru tidak hanya melanda bagian tebing, tetapi juga merembet ke kawasan savana yang berada di sekitar Gunung Bromo.

- Advertisement -

Menurut dia, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran api. Hembusan angin yang cukup kencang sejak Sabtu siang membuat kobaran api bergerak dengan cepat dari bagian atas tebing menuju wilayah yang lebih rendah.

Setibanya di bagian bawah tebing, api kemudian menyambar vegetasi yang berada di sekitar kawasan tersebut. Rerumputan dan tanaman yang mengering akibat kondisi musim kemarau menjadi material yang mudah terbakar sehingga mempercepat pergerakan kobaran api.

Api bahkan berhasil melewati Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT). Setelah melintasi jalur tersebut, kobaran bergerak menuju kawasan savana dan membakar hamparan rumput yang kondisinya juga relatif kering.

- Advertisement -

Perluasan area terdampak tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan upaya lebih besar. Selain menghadapi luas wilayah yang semakin bertambah, petugas juga harus bekerja di kawasan dengan karakter medan yang tidak mudah dijangkau.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai penanganan kebakaran di kawasan TNBTS tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Menurutnya, diperlukan kerja bersama yang melibatkan pemerintah daerah, pengelola kawasan konservasi, aparat keamanan, BPBD hingga masyarakat dan relawan.

Emil turun langsung meninjau kondisi kawasan terdampak sekaligus mengikuti koordinasi penanganan kebakaran. Dalam kegiatan tersebut, berbagai unsur membahas langkah yang diperlukan untuk mengendalikan api dan mencegah munculnya titik kebakaran baru.

Koordinasi melibatkan Kepala Balai Besar TNBTS Rudjanta Tjahja Nugraha, Komandan Kodim 0820 Probolinggo Letkol Inf Ribut Yudho Apriantono, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief serta sejumlah relawan.

Pemantauan di lapangan juga menunjukkan masih adanya sejumlah titik api. Area yang menjadi perhatian petugas berada mulai dari kawasan P30 di Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, hingga wilayah Penanjakan 1.

Petugas gabungan pun terus melakukan penyisiran untuk mencari titik api maupun bara yang masih tersisa. Langkah ini dinilai penting karena bara yang tidak terdeteksi dapat kembali memunculkan kobaran api, terutama ketika tertiup angin kencang.

Sebelum melakukan pemadaman, tim terlebih dahulu melakukan pemetaan kondisi lapangan. Arah dan kecepatan angin, jenis vegetasi yang terbakar serta karakter medan menjadi sejumlah faktor yang diperhitungkan dalam menentukan strategi.

Penanganan kemudian dilakukan dengan mengombinasikan operasi melalui jalur darat dan dukungan dari udara. Metode tersebut dipilih untuk menjangkau wilayah yang sulit didatangi petugas secara langsung sekaligus mempercepat pengendalian api di sejumlah titik.

Medan pegunungan dan kawasan kaldera membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Petugas harus menyesuaikan pergerakan dengan kondisi kontur serta perkembangan arah api agar operasi tetap efektif dan aman.

Kondisi angin juga menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan. Kobaran yang semula berada di satu titik dapat dengan cepat berpindah apabila angin membawa bara menuju vegetasi kering di sekitarnya.

Dengan luas area terdampak yang telah mencapai sekitar 520 hektare, upaya pengendalian kini diarahkan untuk menghentikan penyebaran api sekaligus memastikan seluruh titik panas dapat ditemukan.

Tim gabungan masih melakukan pemantauan secara berkala di kawasan terdampak. Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara api yang berpotensi kembali memicu kebakaran dan memperluas wilayah terdampak di kawasan TNBTS.

Pemerintah bersama pengelola TNBTS juga menghadapi tantangan untuk menjaga agar kebakaran tidak semakin meluas ke kawasan lainnya. Penanganan terpadu menjadi kunci, mengingat kawasan Gunung Bromo merupakan wilayah konservasi dengan kondisi alam yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran saat vegetasi mengering.

Hingga proses pemadaman dan pendinginan berlangsung, petugas gabungan tetap ditempatkan di sejumlah titik strategis. Pengawasan dilakukan seiring dengan upaya memadamkan titik api yang masih ditemukan di lapangan.

Perkembangan luas wilayah terdampak menjadi perhatian serius karena menunjukkan cepatnya penyebaran api dalam kondisi angin kencang dan vegetasi kering. Karena itu, operasi penanganan tidak hanya difokuskan pada api yang terlihat, tetapi juga pada upaya mencegah kebakaran kembali muncul dari bara yang masih tersisa.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Rupiah Menguat ke Rp17.911 per Dolar AS

JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Kamis (6/8/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda terapresiasi 22 poin atau 0,12 persen...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER