JCCNetwork.id- Harga minyak dunia kembali mengalami penguatan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, terutama yang berkaitan dengan jalur distribusi minyak strategis di kawasan Teluk.
Berdasarkan data perdagangan internasional, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 1,9 persen ke level USD97,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juli naik lebih tinggi, yakni 2,4 persen menjadi USD96,03 per barel.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah situasi keamanan di Timur Tengah kembali memburuk. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terlibat aksi militer terbaru yang memperbesar risiko konflik berkepanjangan di kawasan penghasil minyak terbesar dunia tersebut.
Militer AS mengklaim telah menghentikan sebuah kapal tanker yang disebut berupaya menuju pelabuhan Iran. Selain itu, Komando Pusat AS menyatakan berhasil mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak yang diluncurkan ke arah Kuwait dan Bahrain. Sebagai respons atas ancaman tersebut, Washington juga mengaku melakukan serangan pertahanan terhadap sasaran militer di Pulau Qeshm, Iran.
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan negara itu melancarkan serangan balasan yang menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, termasuk markas Armada Kelima AS. Aksi saling serang tersebut semakin memperburuk prospek perdamaian yang sebelumnya sempat diharapkan dapat tercapai melalui jalur diplomatik.
Pengamat energi menilai eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu titik transit energi paling vital di dunia, yang menyalurkan sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.
Ketidakpastian juga muncul setelah proses negosiasi antara Washington dan Teheran dilaporkan mengalami kebuntuan. Sejumlah isu strategis masih menjadi penghalang tercapainya kesepakatan, termasuk program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, serta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa komunikasi dengan Iran masih terus berlangsung. Ia menyatakan optimistis harga minyak akan kembali turun apabila konflik berhasil diselesaikan melalui perundingan damai.
Sejumlah laporan media internasional menyebut Iran telah mengajukan proposal penyelesaian konflik dalam empat tahap. Rencana tersebut mencakup penghentian operasi militer, pembukaan kembali akses perdagangan dan pelayaran, pembahasan isu sanksi serta program nuklir, hingga pembentukan mekanisme pengawasan bersama guna memastikan implementasi kesepakatan.
Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga mendapat dorongan dari data terbaru mengenai persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan lebih besar dibandingkan perkiraan analis.
Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan stok minyak mentah komersial negeri itu berkurang sebanyak delapan juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei 2026. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar empat juta barel.
Dengan penurunan tersebut, total cadangan minyak mentah komersial AS kini berada di level 441,7 juta barel atau sekitar dua persen di bawah rata-rata lima tahun terakhir untuk periode yang sama.
Berkurangnya persediaan minyak terjadi seiring meningkatnya kebutuhan ekspor energi Amerika Serikat selama konflik Timur Tengah berlangsung. Negeri Paman Sam memanfaatkan stok yang dimiliki untuk membantu menjaga pasokan global di tengah terganggunya distribusi minyak dari kawasan Teluk.
Data EIA menunjukkan ekspor gabungan minyak mentah dan produk petroleum Amerika Serikat mencapai 13,6 juta barel per hari pada pekan terakhir Mei. Volume tersebut termasuk salah satu yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir dan mencerminkan tingginya permintaan pasar internasional terhadap pasokan energi alternatif.
Tak hanya stok komersial, cadangan minyak strategis pemerintah AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) juga mengalami penyusutan signifikan. EIA mencatat cadangan darurat tersebut berkurang delapan juta barel dalam satu pekan, menjadi salah satu penurunan terbesar sejak awal 1980-an.
Kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik dan berkurangnya cadangan minyak di Amerika Serikat membuat pelaku pasar memperkirakan volatilitas harga energi masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Selama konflik di Timur Tengah belum menemukan titik penyelesaian, pasar diperkirakan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.























