JCCNetwork.id-Pengadilan Menengah Rakyat Yancheng, Provinsi Jiangsu, China, menjatuhkan hukuman mati dengan masa penangguhan dua tahun kepada mantan Kepala Administrasi Umum Olahraga China, Gou Zhongwen, atas kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dalam skala besar.
Putusan dibacakan pada Senin (9/12), dengan pengadilan menyatakan kejahatan Gou tergolong sangat serius, merusak kepentingan negara, serta menimbulkan dampak sosial yang luas.
Sepanjang 2009 hingga 2024, Gou terbukti menerima suap senilai lebih dari 236 juta yuan atau setara lebih dari Rp500 miliar. Uang tersebut diduga diperoleh melalui pemanfaatan jabatan untuk meloloskan kepentingan bisnis dan persetujuan proyek kelompok tertentu.
Selain vonis mati yang ditangguhkan, Gou juga dijatuhi pencabutan hak politik seumur hidup serta penyitaan seluruh aset pribadi. Ia juga menerima hukuman tambahan berupa lima tahun penjara atas kasus penyalahgunaan wewenang saat menjabat sebagai Wakil Wali Kota Beijing pada 2012–2013, yang terbukti merugikan keuangan negara dan aset publik.
Pengadilan kemudian menggabungkan seluruh vonis tersebut menjadi satu hukuman mati dengan masa percobaan dua tahun, sekaligus memerintahkan seluruh hasil kejahatan beserta bunganya dikembalikan ke kas negara.
Majelis hakim mempertimbangkan beberapa faktor yang meringankan, termasuk pengakuan bersalah, sikap kooperatif, serta pengembalian seluruh uang hasil kejahatan.
Namun, karena besarnya kerugian negara dan dampak sosial yang ditimbulkan, pengadilan menegaskan Gou tidak berhak atas pengurangan hukuman lebih lanjut. Artinya, jika hukuman mati tersebut dikonversi, ia akan menjalani penjara seumur hidup tanpa remisi.
Di China, hukuman mati dengan penangguhan dua tahun lazim diberikan dalam kasus korupsi besar. Hukuman tersebut biasanya diubah menjadi penjara seumur hidup jika terpidana tidak melakukan kejahatan baru selama masa percobaan.
Gou Zhongwen merupakan tokoh berpengaruh di dunia olahraga China. Ia menjabat sebagai Kepala Administrasi Umum Olahraga China pada periode 2016–2022, sekaligus menjadi Ketua Komite Olimpiade China dan Ketua Panitia Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Ia juga pernah menduduki jabatan penting di lembaga legislatif China.
Karier politik Gou mulai runtuh sejak Mei 2024 setelah ia resmi diselidiki aparat antikorupsi. Ia kemudian dikeluarkan dari Partai Komunis China dan dicopot dari seluruh jabatan publik. Sidang perdananya digelar secara terbuka pada Agustus 2025.
Selama menjabat, Gou sempat menjadi sorotan publik, termasuk saat mengintervensi kebijakan pemain U-23 Liga Super China pada 2017 serta memecat pelatih tenis meja nasional Liu Guoliang, yang memicu aksi mogok atlet nasional.
Kasus ini menambah daftar panjang pejabat tinggi China yang dijerat hukuman berat dalam kampanye besar-besaran pemberantasan korupsi yang terus digencarkan pemerintah Beijing.























