Trump Ancam Sanksi Global: Negara yang Bisnis dengan Rusia Terancam Dibekukan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa Partai Republik tengah menyiapkan rancangan legislasi yang akan menjatuhkan sanksi berat kepada negara mana pun yang masih melakukan bisnis dengan Rusia. Iran disebut menjadi salah satu negara yang berpotensi masuk dalam daftar tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Minggu (16/11/2025) dan dikutip oleh Reuters pada Senin (17/11/2025). Ia menegaskan bahwa usulan tersebut merupakan bagian dari strategi memperketat tekanan terhadap Moskow di tengah berlanjutnya invasi Rusia ke Ukraina.

- Advertisement -

“Seperti yang Anda tahu, ini usulan saya. Jadi, negara mana pun yang berbisnis dengan Rusia akan dikenai sanksi sangat berat,” ujar Trump. “Mereka mungkin menambahkan Iran ke dalam daftar itu,” tambahnya.

Langkah terbaru Washington dan sekutunya menambah intensitas tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Rusia.

Negara-negara Barat menuntut Moskow menghentikan serangan militernya terhadap Ukraina yang telah memasuki tahun ketiga.

- Advertisement -

Data dari Russian Oil Tracker menunjukkan bahwa India, China, dan Turki merupakan importir terbesar minyak Rusia melalui jalur laut.

India bahkan menjadi pembeli paling signifikan, meskipun berada di bawah ancaman sanksi dari Amerika Serikat.

Menurut laporan, pada puncaknya, minyak Rusia pernah menyumbang hampir 40 persen dari total impor minyak India.

Pemerintah India tetap berkomitmen mempertahankan hubungan energi dengan Moskow, menyebut kerja sama tersebut sebagai “wajar dan telah teruji waktu”.
China, pembeli besar lainnya, juga terus mengimpor minyak Rusia, terutama melalui jaringan pipa.

Walau beberapa kilang dilaporkan mengurangi impor via jalur laut karena risiko sanksi Barat, pasokan dari Rusia tetap mengalir lewat mekanisme yang dianggap lebih aman.

Turki memainkan peran kompleks dalam perdagangan energi Rusia. Selain mengimpor minyak mentah secara langsung, Turki diketahui mengekspor kembali produk olahan minyak Rusia ke beberapa negara Eropa melalui celah regulasi internasional yang dikenal sebagai refining loophole.

Strategi ini memungkinkan minyak Rusia tetap memasuki pasar yang secara resmi telah menjatuhkan sanksi.

Kondisi tersebut menuai kritik karena menjadikan Turki semacam titik transit (pit stop) bagi energi Rusia di tengah tekanan global.

Dalam menghadapi jaringan sanksi yang kian ketat, Rusia mengoperasikan shadow fleet—sebuah armada kapal tanker yang dioperasikan dengan bendera dan kepemilikan baru, rute pengiriman yang diubah, serta penggunaan asuransi non-Barat.

Strategi ini memungkinkan minyak Rusia tetap mencapai pasar global, khususnya negara-negara yang dinilai kurang patuh pada sanksi Barat.

Dengan taktik tersebut, Rusia berupaya mempertahankan pendapatan ekspor energi, sekaligus meminimalkan dampak ekonomi dari tekanan sanksi internasional.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Gempa M3,3 Guncang Mandailing Natal, Getaran Terasa di Kotanopan

JCCNetwork.id- Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 3,3 mengguncang wilayah Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada Sabtu (25/7/2026) dini hari. Getaran gempa dilaporkan terasa di...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER