JCCNetwork.id- Kasus dugaan perundungan (bullying) kembali mencuat di dunia pendidikan. Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban kekerasan dari teman-teman sekelasnya. Peristiwa tragis ini terjadi pekan lalu dan kini tengah diselidiki intensif oleh kepolisian setempat.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Grobogan, AKP Rizky Ari Budianto, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memeriksa sembilan orang saksi, termasuk beberapa teman korban.
“Untuk terkait penyebab kematiannya, kami masih dalam proses penyelidikan. Saat ini kami telah melakukan pemeriksaan beberapa saksi. Kemudian dari tim kami juga tim Iden juga sedang melakukan olah TKP. Selanjutnya untuk terkait penyebab kematiannya kami masih koordinasi dengan dokter forensik,” kata Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Rizky Ari Budianto dikutip dari Metro Pagi Primetime, Metro TV, Senin, 12 Oktober 2025.
Peristiwa bermula saat korban diduga diajak berduel oleh dua temannya di lingkungan sekolah. Setelah pertikaian tersebut, korban tiba-tiba tidak sadarkan diri. Ia kemudian dilarikan ke Puskesmas Geyer, namun nyawanya tidak tertolong. Petugas medis menyatakan korban sudah meninggal dunia saat tiba di fasilitas kesehatan tersebut.
Jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit dr. Soedjati Purwodadi untuk keperluan autopsi. Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik, ditemukan tanda-tanda kekerasan berupa penggumpalan darah di otak, memar di kepala, serta patah tulang pada tengkuk dan leher bagian atas. Luka-luka itu diduga kuat akibat benturan benda tumpul.
Korban dimakamkan di pemakaman umum desa setempat pada Minggu siang, 12 Oktober 2025. Suasana duka menyelimuti proses pemakaman yang dihadiri keluarga, kerabat, serta teman-teman sekolahnya.
Orang tua korban mengaku sangat terpukul atas kepergian anak mereka yang dinilai mendadak. Sang ibu menuturkan, sebelum meninggal dunia, anaknya sempat menelepon dan meminta dibelikan sepatu serta jersey baru.
“Kami sedang memeriksa sembilan orang termasuk teman korban,” tambahnya.
Menurut keterangan keluarga, korban selama ini dikenal sebagai anak pendiam, sopan, dan jarang membuat masalah. Namun, beberapa minggu terakhir, korban disebut kerap mendapat perlakuan kasar dan ejekan dari teman-teman sekolahnya. Dugaan perundungan yang dialami korban ini diyakini menjadi pemicu terjadinya insiden tragis tersebut.















