JCCNetwork.id- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,4 mengguncang wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Sabtu (30/5/2026) siang. Peristiwa tersebut terekam oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sekitar pukul 12.08 WIB.
Berdasarkan data awal yang dirilis BMKG, pusat gempa berada di koordinat 8,52 Lintang Selatan dan 114,03 Bujur Timur atau sekitar 49 kilometer di barat daya Banyuwangi. Gempa terjadi pada kedalaman 10 kilometer, sehingga tergolong sebagai gempa dangkal.
“Mag:2.4, 30-May-2026 12:08:25WIB, Lok:8.52LS, 114.03BT (49 km BaratDaya BANYUWANGI-JATIM),” tulis BMKG dalam akun X resminya dikutip Okezone.
Informasi mengenai gempa tersebut disampaikan BMKG melalui kanal resmi media sosialnya. Meski berkekuatan relatif kecil, aktivitas seismik tersebut tetap menjadi perhatian karena terjadi di kawasan yang berada di jalur pertemuan lempeng aktif yang kerap memicu aktivitas kegempaan.
BMKG menjelaskan bahwa data yang dipublikasikan merupakan hasil analisis awal yang mengutamakan kecepatan penyampaian informasi kepada masyarakat. Karena itu, parameter gempa seperti magnitudo, lokasi episenter, maupun kedalaman masih berpotensi mengalami pembaruan seiring masuknya data tambahan dari jaringan pemantauan.
“Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,”demikian keterangan BMKG.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban akibat guncangan tersebut. Belum diketahui pula apakah gempa dirasakan oleh warga di wilayah Banyuwangi maupun daerah sekitarnya.
Pihak berwenang masih terus memantau perkembangan situasi pascagempa. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti perkembangan informasi resmi yang disampaikan BMKG dan instansi terkait.
Indonesia sendiri merupakan negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), sehingga aktivitas gempa bumi menjadi fenomena yang cukup sering terjadi. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana geologi tetap menjadi hal penting untuk meminimalkan risiko ketika terjadi gempa yang lebih besar.



