JCCNetwork.id- Operasi pencarian terhadap korban tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya memasuki hari ketiga, Jumat (4/7/2025). Tim SAR gabungan kembali melanjutkan upaya penyisiran di wilayah laut dan pesisir, dengan melibatkan ratusan personel serta peralatan khusus.
Sejak pagi, penyisiran dilakukan di sepanjang bibir pantai Gilimanuk hingga kawasan Pebuahan, lokasi ditemukannya sejumlah korban selamat maupun meninggal dunia pada hari sebelumnya. Fokus pencarian diarahkan ke area-area yang dinilai rawan dan memungkinkan adanya korban lain yang belum ditemukan.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Bali mengerahkan dua kapal Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Pos SAR Buleleng dan Jembrana untuk menyisir wilayah laut secara intensif. Kapal berukuran kecil itu dipilih karena lebih mudah bermanuver di antara ombak dan karang, terutama mengingat korban-korban sebelumnya ditemukan oleh nelayan serta warga yang beraktivitas di perairan dan pesisir.
Ia menambahkan, sebanyak 200 personel gabungan dikerahkan dalam operasi tersebut. Mereka berasal dari Basarnas, Kepolisian, TNI Angkatan Laut, serta TNI Angkatan Darat. Tim dibagi dalam dua kelompok utama untuk menyisir area laut dan daratan sekitar.
“Untuk operasi SAR pada hari ketiga ini, kita mengawali briefing kepada semua stakeholder tim SAR gabungan. Tugas kita bagi dua di laut dan darat,” kata Kepala Basarnas Bali I Nyoman Sidakarya.
Hingga Kamis malam (3/7/2025), tercatat total 35 korban telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Dari jumlah tersebut, 29 orang dinyatakan selamat dan enam orang lainnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Data tersebut masih bisa bertambah seiring dengan proses pencarian yang terus dilakukan secara intensif.
Belum diketahui secara pasti berapa jumlah total penumpang dalam insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. Namun pihak berwenang memastikan pencarian akan terus dilanjutkan hingga seluruh korban ditemukan atau kondisi dinyatakan aman untuk dihentikan.
Kapal KMP Tunu Pratama Jaya sebelumnya dilaporkan mengalami kecelakaan laut di wilayah perairan dekat Selat Bali. Peristiwa ini kembali menjadi sorotan publik dan memunculkan pertanyaan besar terkait keselamatan pelayaran dan sistem deteksi dini di wilayah perairan Indonesia.
Pihak Basarnas bersama instansi terkait kini juga tengah melakukan investigasi awal guna mengungkap penyebab tenggelamnya kapal, termasuk dugaan kelebihan muatan atau potensi kelalaian teknis lainnya.























