JCCNetwork.id- Dunia pendidikan kembali tercoreng. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru terhadap siswanya di SMP Negeri 1 Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mencuat ke publik usai terekam dalam video yang viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, sang guru tampak berdiri di atas meja dan menendang wajah siswa saat ujian akhir berlangsung.
Kejadian yang terjadi saat pelaksanaan assessment sumatif akhir tahun (ASAT) ini langsung menuai kecaman. Pihak kepolisian pun bergerak cepat menyelidiki kasus tersebut dan mengkonfirmasi bahwa dua siswa menjadi korban kekerasan fisik.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Demak, AKP Kuseni, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap sembilan orang saksi, termasuk guru terduga pelaku, diketahui tindakan penendangan dilakukan terhadap dua siswa berinisial IB dan AM.
“Dari hasil penyelidikan kami, peristiwa kekerasan ini melibatkan dua siswa yang ditendang oleh guru bersangkutan,” jelas AKP Kuseni pada Kamis (12/6/2025).
Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di ruang kelas 7C, tempat insiden terjadi pada Rabu (11/6/2025). Saat ini, proses hukum masih bergulir, bersamaan dengan upaya mediasi yang dilakukan pihak sekolah dan instansi terkait.
Kepala SMP Negeri 1 Karangawen, Priantono, sempat memberikan pernyataan bahwa tindakan guru berinisial WD tersebut dilatarbelakangi oleh kegaduhan di dalam kelas. Ia menyebutkan bahwa reaksi sang guru dipicu oleh emosi sesaat yang meledak karena tidak kunjung menemukan sumber suara yang mengganggu jalannya ujian.
“Mungkin karena kesal dan tidak tahu siapa yang membuat gaduh, guru tersebut bereaksi spontan. Tapi dari klarifikasi kami, tidak ada cedera serius dan tidak ada persoalan besar dengan pihak orang tua,” ujarnya.
Meski demikian, penilaian berbeda datang dari pihak kepolisian yang menegaskan adanya unsur penganiayaan dalam kasus ini. Pernyataan sekolah yang menyebut tindakan guru sebagai spontanitas dianggap tak menghapus fakta bahwa kekerasan fisik telah terjadi.
Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan di dunia pendidikan yang menjadi sorotan publik. Sejumlah kalangan mendesak agar pemerintah dan institusi pendidikan mengambil langkah tegas.
Evaluasi sistem pengawasan guru serta pendekatan disiplin yang berorientasi pada perlindungan anak dinilai sangat mendesak untuk mencegah insiden serupa terulang.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses penyelidikan akan terus dikawal secara transparan, sembari menunggu hasil mediasi yang kini tengah berlangsung.













