JCCNetwork.id- Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong optimalisasi platform SIAPKerja guna mengatasi lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) di awal 2025.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyatakan platform tersebut menjadi sarana utama integrasi data lowongan kerja bagi korban PHK.
“Informasi terkait lapangan kerja yang ada itu nanti terintegrasi dalam platform SIAPKerja,” ucap Yassierli ketika ditemui di Jakarta, Kamis.
Kemnaker mengungkapkan, belum optimalnya pemanfaatan SIAPKerja disebabkan minimnya pelaporan lowongan kerja dari perusahaan.
Untuk itu, pihaknya mengimbau perusahaan agar segera melaporkan lowongan melalui layanan Wajib Lapor Ketenagakerjaan Perusahaan (WLKP) di portal kemnaker.go.id.
“Kami mau mengejar ini (pelaporan lowongan kerja), sehingga nanti informasi terkait lapangan kerja itu ada,” kata Yassierli.
Dengan data yang masuk, pemerintah berharap dapat memetakan kebutuhan dan ketersediaan lapangan kerja secara lebih akurat.
Kemnaker juga menjalin koordinasi lintas kementerian seperti Kementerian Pertanian, guna memantau dan memperluas sektor penyerapan tenaga kerja.
“Selanjutnya yang kami data adalah proyeksi (lapangan pekerjaan) dari masing-masing kawasan industri, kawasan ekonomi. Itu yang ingin kami petakan,” kata dia.
Kementerian turut mengandalkan program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan hilirisasi industri sebagai solusi jangka menengah penciptaan lapangan kerja baru.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran di Indonesia per Februari 2025 mengalami kenaikan sebesar 83 ribu orang atau 1,11 persen dibanding Februari 2024.
Kepala BPS Amelia Adininggar Widyasanti menjelaskan kenaikan ini terjadi seiring pertumbuhan angkatan kerja sebesar 3,67 juta orang menjadi total 153,05 juta orang.
Data BPS juga mencatat jumlah penduduk usia kerja pada Februari 2025 mencapai 216,79 juta orang, naik 2,79 juta dari tahun sebelumnya.
Lonjakan PHK turut tercermin dari data Kemnaker, yang mencatat 18.610 kasus PHK selama Januari–Februari 2025, meningkat drastis dari 3.325 kasus pada Januari saja.















