JCCNetwork.id- Penetapan Wali Kota Medan, Bobby Nasution, sebagai calon gubernur Sumatera Utara oleh Partai Golkar mengundang sorotan tajam terhadap dinamika politik di dalam partai dan hubungannya dengan pemerintahan Joko Widodo. Fernando EMaS, Direktur Rumah Politik Indonesia, menegaskan bahwa langkah ini semakin menunjukkan bagaimana sikap politik Airlangga Hartanto kepada Presiden Joko Widodo.
“Penetapan Wali Kota Medan, Bobby Nasution oleh Partai Golkar semakin menunjukkan bahwa Airlangga Hartanto “dibawah ketiak” Joko Widodo,” kata Fernando dalam keterangannya, Kamis (20/6/2024).
Menurut Fernando sebagai peraih terbanyak kursi DPRD Provinsi Sumatera Utara, seharusnya Partai Golkar mengusung kader mereka sendiri untuk pilkada Sumatera Utara. Seperti Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara, Musa Rajekshah (Ijeck), yang berhasil meningkatkan perolehan kursi partai di legislatif, seharusnya mendapat apresiasi untuk maju sebagai calon gubernur berdasarkan pengalaman sebagai Wakil Gubernur sebelumnya.
“Sudah selayaknya Ijeck mendapatkan apresiasi diusung sebagai calon gubernur Sumatera Utara karena pernah menjadi Wakil Gubernur pada periode sebelumnya dan sangat diperhitungkan apabila mengikuti kontestasi,” tambahnya.
Fernando juga menyoroti perbedaan perolehan suara antara Partai Golkar dan Gerindra di DPRD Sumatera Utara, di mana Golkar mengalami kenaikan kursi sementara Gerindra mengalami penurunan. Hal ini menurutnya menjadi alasan kuat bagi Ijeck untuk diberi kesempatan dalam kontestasi pilkada.
Kritik juga disampaikan terhadap posisi Airlangga Hartanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Fernando menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan diperlukan untuk menghindari dominasi yang terlalu erat dengan Jokowi, yang dinilainya tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi Partai Golkar.
“Sudah selayaknya Airlangga Hartanto diganti dari posisinya sebagai Ketua Umum sehingga Partai Golkar tidak selalu dibawah kendali Jokowi yang kedepan tidak akan memberikan manfaat bagi Partai Golkar,” pungkasnya.



