JCCNetwork.id— Pelaku pasar menilai penyampaian RAPBN 2027 tidak cukup hanya berisi target pertumbuhan ekonomi, defisit fiskal, dan asumsi makro.
Investor juga menunggu gambaran menyeluruh mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintah untuk menghadapi tantangan domestik dan global.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, perhatian pasar terhadap RAPBN 2027 tahun ini lebih tertuju pada strategi pemerintah dibandingkan sekadar angka-angka dalam anggaran.
“Dalam kondisi normal, pasar biasanya fokus pada angka defisit, target pertumbuhan, atau asumsi makro. Namun tahun ini berbeda,” kata Fakhrul di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurut dia, sejumlah parameter utama RAPBN 2027 sebenarnya telah diketahui pasar.
Pemerintah dan DPR menyepakati target pertumbuhan ekonomi 2027 dalam rentang 5,8 persen hingga 6,5 persen.
Sementara itu, defisit fiskal dipatok 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, investor kini menunggu penjelasan pemerintah mengenai arah kebijakan fiskal dan moneter, pola pembiayaan pembangunan, serta strategi Indonesia menghadapi perubahan ekonomi global.
Fakhrul menyebut terdapat empat isu utama yang menjadi perhatian pasar.
Pertama, investor ingin mengetahui apakah RAPBN 2027 akan diarahkan sebagai tahap konsolidasi setelah gejolak ekonomi 2026 atau menjadi pijakan untuk mempercepat ekspansi pembangunan.
Kedua, pasar membutuhkan kejelasan mengenai pembagian peran antara APBN, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Danantara, dan sektor keuangan dalam mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
Ketiga, pemerintah dinilai perlu menunjukkan strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap arus modal portofolio jangka pendek.
Stabilitas pasar keuangan sepanjang 2026 dinilai menjadi modal penting, tetapi pemerintah masih perlu memperkuat sumber pembiayaan yang lebih berkelanjutan.
Keberhasilan menjaga stabilitas pasar keuangan sepanjang tahun ini merupakan pencapaian yang penting, namun tantangan berikutnya adalah membangun sumber pembiayaan yang lebih permanen melalui investasi langsung, industrialisasi, dan penguatan neraca pembayaran,jelasnya.
Keempat, investor mencermati kesiapan pemerintah menghadapi perubahan ekonomi global, terutama kecenderungan kenaikan biaya modal jangka panjang.
Menurut Fakhrul, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi strategi pembiayaan pembangunan Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Karena itu, pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian RAPBN 2027 menjadi salah satu agenda komunikasi kebijakan yang paling dinantikan pelaku pasar sepanjang 2026.
Fakhrul menilai Nota Keuangan akan menjadi acuan bagi investor dalam membaca arah kebijakan pemerintah.
Pasar tidak hanya akan mencermati besaran anggaran, tetapi juga konsistensi dan keyakinan pemerintah dalam menjalankan strategi ekonomi nasional.
“Nota Keuangan juga berfungsi sebagai expectation guidance bagi pasar keuangan. Investor akan menilai bukan hanya angka yang disampaikan, tetapi juga arah, konsistensi, dan keyakinan yang ditunjukkan pemerintah terhadap strategi ekonomi Indonesia ke depan,” tuturnya.



