JCCNetwork.id- Pergerakan politik di Indonesia semakin menggema menjelang Pemilihan Presiden 2024. Salah satu fenomena yang mencolok adalah maraknya penawaran gagasan pro-rakyat yang digaungkan oleh tim sukses dan bakal pasangan calon presiden.
Menurut peneliti kebijakan publik IDP-LP, Riko Noviantoro, dari sisi praktek demokrasi, hal itu bagus dan baik. Semua kandidat harus melontarkan gagasan yang menarik. Namun, ada kritik pedasnya. Di mana banyak dari gagasan yang disuarakan bakal calon sejauh ini hanya bertujuan untuk merebut simpati rakyat dan mencari dukungan semata, tanpa mempertimbangkan realitas keuangan negara.
Salah satu contoh yang diambil Riko adalah gagasan bakal calon presiden, Prabowo Subianto soal program makan gratis bagi anak anak hingga ibu hamil setiap harinya jika terpilih menjadi presiden. Meskipun terdengar mulia dan pro-rakyat, gagasan tersebut dianggap tidak rasional jika melihat struktur keuangan negara yang ada saat ini.
Selain itu, menurutnya, gagasan semacam itu tidak menggali esensi sebenarnya dari masalah anak dan ibu hamil di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa persoalan stunting, misalnya, tidak hanya disebabkan oleh masalah gizi, tetapi juga oleh pola asuh keluarga yang kurang tepat.
“Memang benar ada masalah stunting. Namun banyak dari penyebab stunting bukan hanya gizi, tapi ad pola asuh keluarga yg kurang tepat,” kata Riko kepada JCCNetwork.id, Sabtu (9/9/2023).
Riko menyayangkan masih adanya kemasan gagasan yang terlalu fokus pada upaya memperoleh dukungan politik. Menurutnya, lebih bijak jika gagasan-gagasan ini dikemas dalam diskusi yang lebih mendalam tentang penguatan gizi anak, yang sebenarnya sudah menjadi program yang dijalankan oleh pemerintah sebelumnya.
Ia juga mengimbau calon presiden dapat lebih mendalam dalam merancang dan mengemas gagasan-gagasan mereka. Dalam hal ini, keberhasilan mereka tidak hanya akan diukur dari sejauh mana mereka memperoleh dukungan politik, tetapi juga dari sejauh mana gagasan-gagasan tersebut benar-benar memberikan manfaat dan solusi konkret bagi rakyat Indonesia.
“Jangan mulai obral gagasan pro rakyat.Tetapi para kandiat harus bisa lebih menarik mengemas gagasan. Sekaligus bisa diukur keberhasilannya bakal seperti apa,” tutup Riko.

















