Koma.id- Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di DKI Jakarta telah menjadi bahan perdebatan yang intens. Kebijakan ini diumumkan dengan harapan utama untuk mengurangi dampak negatif dari polusi udara yang semakin meresahkan. Namun, sejauh ini, kebijakan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan serius.
Salah satu kebingungan yang muncul adalah efektivitas kebijakan WFH dalam mengatasi kemacetan lalu lintas di jalan-jalan protokol ibu kota. Kendati ASN sudah diperbolehkan bekerja dari rumah, kemacetan tetap saja menjadi momok yang sulit dihindari. Ini menjadi pertanyaan besar, apakah WFH benar-benar dapat mengurangi polusi dan kemacetan?
Tidak hanya itu, ketidakpastian juga mengelilingi efektivitas WFH dalam menangani masalah polusi udara di Jakarta. Menurut data dari IQAir, kualitas udara di Jakarta masih berada dalam kategori tidak sehat, meskipun sudah beberapa hari sejak kebijakan ini diberlakukan.
Di samping itu, Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menunjukkan kekhawatirannya terhadap WFH. Ia berpendapat bahwa penyebab polusi udara memiliki banyak faktor yang kompleks.
Dia juga mengungkapkan kekhawatiran atas nasib pekerja pabrik jika pemerintah terus menerapkan WFH bagi pekerja kantoran di Jakarta.
“Ini tidak adil, karena polusi udara bukan penyakit, penyebab polusi udara itu siapa? Banyak faktor. Dari berbagai informasi adanya PLTU di sekitar Jakarta menambah beban polusi udara,” kata Said Iqbal.



