Gempa M7,8 Filipina Tewaskan 45 Orang

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Jumlah korban akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina terus bertambah seiring proses pendataan dan verifikasi yang dilakukan otoritas setempat. Hingga Rabu (10/6/2026), pemerintah Filipina memastikan sedikitnya 45 orang meninggal dunia akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Mindanao tersebut.

Badan Pertahanan Sipil Filipina (OCD) menyatakan seluruh korban jiwa yang telah teridentifikasi berasal dari kawasan Davao dan Soccsksargen, dua wilayah yang mengalami dampak paling serius akibat guncangan kuat yang terjadi pada Senin (8/6/2026).

- Advertisement -

Deputi Administratur Bidang Administrasi OCD, Bernardo Rafaelito Alejandro IV, mengungkapkan bahwa korban meninggal tersebar di beberapa provinsi. Sarangani menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak yakni 18 orang, disusul Cotabato Selatan sebanyak 15 korban, Davao Occidental 11 korban, dan satu korban lainnya berasal dari Davao del Sur.

“Sebanyak 18 korban tewas dilaporkan berada di Sarangani, 15 korban di Cotabato Selatan, 11 korban di Davao Occidental, dan satu korban di Davao del Sur,” ujar Alejandro merinci sebaran korban jiwa.

Selain korban meninggal, upaya pencarian masih terus dilakukan terhadap sejumlah warga yang dilaporkan hilang. Hingga kini, petugas gabungan masih memverifikasi laporan mengenai 17 orang yang belum ditemukan. Sebanyak 13 orang hilang dilaporkan berada di Davao Occidental, sementara empat lainnya berasal dari General Santos City.

- Advertisement -

Di sisi lain, rumah sakit dan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak masih menangani ratusan korban luka. Data sementara OCD mencatat sedikitnya 630 orang mengalami cedera akibat tertimpa bangunan runtuh maupun material yang jatuh saat gempa terjadi. Angka tersebut diperkirakan masih dapat berubah karena proses pendataan di lapangan terus berlangsung.

Dampak gempa tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memicu gangguan sosial dalam skala besar. Berdasarkan laporan Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Filipina (NDRRMC), sebanyak 33.596 keluarga atau sekitar 149.372 jiwa terdampak langsung oleh bencana tersebut.

Warga terdampak tersebar di sejumlah wilayah, meliputi Semenanjung Zamboanga, Wilayah Davao, Soccsksargen, serta Daerah Otonomi Bangsamoro di Mindanao. Banyak di antara mereka terpaksa meninggalkan rumah karena bangunan mengalami kerusakan atau dinilai tidak aman untuk ditempati.

Pemerintah daerah bersama lembaga penanggulangan bencana telah membuka puluhan pusat evakuasi guna menampung warga yang kehilangan tempat tinggal. Hingga saat ini, sebanyak 8.813 keluarga atau 32.464 jiwa tercatat berada di 57 lokasi pengungsian yang disiapkan pemerintah.

Sementara itu, sekitar 1.804 keluarga atau 8.973 orang lainnya menerima bantuan di luar pusat evakuasi. Sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat maupun lokasi yang dianggap lebih aman sambil menunggu situasi kembali normal.

Kerusakan infrastruktur juga dilaporkan cukup parah. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 2.499 rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sedangkan 495 rumah lainnya hancur total akibat kuatnya guncangan gempa. Kerusakan tersebut paling banyak ditemukan di wilayah Davao, Soccsksargen, dan Semenanjung Zamboanga.

Merespons kondisi darurat tersebut, Angkatan Darat Filipina mengerahkan personel tambahan untuk memperkuat operasi pencarian dan penyelamatan. Tim Urban Search and Rescue (USAR) diterjunkan ke sejumlah lokasi terdampak guna membantu evakuasi korban dan distribusi bantuan kemanusiaan.

Sebanyak 18 personel penyelamat khusus ditempatkan di General Santos City yang menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan paling tinggi. Selain itu, Divisi Infanteri Ke-10 Filipina juga mengirimkan sekitar 200 personel tambahan untuk mempercepat penanganan di lapangan.

Pasukan tersebut terdiri dari berbagai satuan yang tergabung dalam misi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Mereka bertugas membantu proses evakuasi, pendistribusian logistik, hingga memastikan keamanan warga di lokasi terdampak.

Tidak hanya personel, militer Filipina juga mengerahkan berbagai kendaraan operasional untuk menjangkau daerah yang sulit diakses. Armada yang diturunkan meliputi truk angkut, kendaraan patroli, hingga sepeda motor yang digunakan untuk mendukung mobilitas tim penyelamat.

Sementara itu, Divisi Infanteri Ke-6 turut mengirimkan 53 personel yang terbagi dalam 12 tim bantuan kemanusiaan. Mereka ditempatkan di sejumlah titik terdampak, termasuk General Santos City, Sarangani, dan Sultan Kudarat.

Pemerintah Filipina juga tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan. Untuk mengantisipasi situasi darurat lanjutan, militer menyiagakan lebih dari 600 personel cadangan yang dapat digerakkan sewaktu-waktu apabila kondisi di lapangan memburuk.

“Angkatan Darat Filipina bekerja sama erat dengan lembaga pemerintah nasional dan pemerintah daerah untuk memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi terhadap gempa-gempa yang merusak di kawasan itu,” ucap Kolonel Dema-ala.

Juru Bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Louie Dema-ala, menegaskan bahwa seluruh unsur pemerintah terus bekerja secara terpadu dalam menangani dampak bencana. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, militer, dan lembaga kemanusiaan dilakukan untuk memastikan proses penyelamatan, evakuasi, serta penyaluran bantuan dapat berlangsung cepat dan efektif bagi masyarakat yang terdampak gempa besar tersebut.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Siswi SD di Sragen Tewas, Polisi Buru Pelaku

JCCNetwork.id- Warga Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, digegerkan oleh penemuan seorang siswi sekolah dasar berinisial B (11) yang ditemukan meninggal dunia...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER