Harga Minyak Anjlok Usai Selat Hormuz Dibuka

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Harga minyak dunia merosot lebih dari 2 persen pada perdagangan Kamis (18/6/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk meredakan konflik yang berlangsung sejak awal tahun.

Kesepakatan tersebut memicu optimisme pasar terhadap pemulihan pasokan energi global.

- Advertisement -

Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent turun sebesar US$1,85 atau 2,33 persen menjadi US$77,69 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi US$1,89 atau 2,46 persen ke posisi US$74,90 per barel.

Penurunan tersebut membawa harga Brent ke titik terendah sejak akhir Februari 2026, sebelum operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gejolak di pasar energi internasional.

- Advertisement -

Pelaku pasar merespons positif kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pelonggaran sebagian sanksi terhadap Teheran.

Jalur pelayaran strategis tersebut selama beberapa bulan terakhir menjadi sumber kekhawatiran utama karena menampung sekitar seperlima distribusi minyak dunia.

Analis menilai potensi normalisasi aktivitas di Selat Hormuz telah mengurangi premi risiko yang sebelumnya mendorong harga minyak naik.

“Sebagian pihak memperkirakan normalisasi penuh membutuhkan waktu beberapa minggu karena faktor asuransi, perbaikan infrastruktur, dan pelonggaran sanksi. Namun arah pergerakannya sudah jelas dan skenario paling pesimistis sejauh ini terbukti terlalu pesimistis,” ujar Flynn dilansir dari Reuters.

Meski proses pemulihan diperkirakan berlangsung bertahap, arah pasar dinilai mengindikasikan berkurangnya ancaman gangguan pasokan global.

Kesepakatan sementara yang dituangkan dalam nota kesepahaman berisi 14 poin itu membuka ruang negosiasi selama 60 hari.

Iran juga disebut akan memberikan akses pelayaran yang lebih terbuka melalui Selat Hormuz, dengan target operasional jalur tersebut kembali normal dalam waktu 30 hari.

Namun demikian, sejumlah isu penting, termasuk program nuklir Iran, belum menjadi bagian dari penyelesaian akhir dan akan dibahas pada tahap negosiasi berikutnya.

Dalam perjanjian tersebut, Amerika Serikat bersama mitranya juga berkomitmen menyiapkan dana sekitar US$300 miliar guna mendukung pemulihan ekonomi Iran.

Lembaga keuangan internasional memperkirakan pemulihan pasokan minyak akan berlangsung secara bertahap.

Goldman Sachs memproyeksikan ekspor minyak negara-negara Teluk kembali ke tingkat sebelum konflik pada akhir Juli 2026, sementara produksi diperkirakan pulih sepenuhnya pada Oktober mendatang.

Di sisi lain, BNP Paribas menilai harga minyak masih memiliki penopang kuat sehingga sulit kembali ke level sebelum konflik.

Bank tersebut memperkirakan kisaran US$75 per barel akan menjadi batas bawah harga dalam jangka pendek karena permintaan energi global tetap tinggi dan pasokan belum sepenuhnya stabil.

Tekanan tambahan terhadap pasar energi juga datang dari proyeksi perlambatan konsumsi minyak di China.

Negara tersebut diperkirakan mengonsumsi 753 juta ton metrik minyak sepanjang 2026, turun 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya seiring percepatan transisi energi dan tingginya harga minyak.

Meski ketegangan antara Washington dan Teheran mulai mereda, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

Konflik di kawasan Eropa Timur masih berpotensi memengaruhi pasar setelah Ukraina kembali melancarkan serangan drone ke fasilitas kilang minyak di wilayah Moskow untuk kedua kalinya dalam sepekan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Prabowo Bahas Harga Sawit dengan Mentan

JCCNetwork.id- Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memanggil Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (18/6/2026). Pertemuan tersebut membahas sejumlah...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER