JCCNetwork.id- Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus menjadi perhatian tim gabungan. Hingga Rabu (12/8/2026), luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 921,42 hektare.
Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menunjukkan, kobaran api telah menjangkau sejumlah wilayah di sekitar kawasan TNBTS, mulai dari Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, hingga kawasan Penanjakan di Kabupaten Pasuruan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan angka tersebut belum bersifat final. Petugas masih melakukan pendataan dan pemetaan ulang untuk memastikan luas kawasan yang terbakar.
“Prakiraan luas lahan yang terbakar saat ini total sekitar 921,42 hektare dengan jenis vegetasi cemara gunung, mentigen, akasia dan semak belukar. Data berkembang dalam proses pendataan ulang,” kata Sadono, Rabu, 12 Agustus 2026.
Kebakaran diketahui pertama kali muncul pada 3 Agustus 2026 di kawasan Kaldera Bromo, tepatnya di sekitar Bukit Jantur atau Bantengan, Kabupaten Probolinggo. Kondisi angin kemudian membuat api bergerak dan pada 5 Agustus mulai merambah wilayah administratif Kabupaten Malang.
Pergerakan api menjadi tantangan bagi petugas karena sebagian besar wilayah yang terbakar memiliki kontur medan terjal dan sulit dijangkau. Selain itu, keberadaan vegetasi seperti cemara gunung, mentigen, akasia, serta semak belukar membuat material yang mudah terbakar tersebar cukup luas.
Berdasarkan pemantauan terakhir, titik api yang masih menjadi perhatian utama berada di kawasan Pakis Bincil Dingklik. Sementara itu, titik api di kawasan P30 telah dinyatakan nihil.
Di kawasan Penanjakan, tim masih menemukan sisa api dalam skala kecil. Petugas gabungan terus melakukan penanganan untuk memastikan bara tidak kembali berkembang menjadi kobaran baru.
Pemadaman Darat dan Udara
Penanganan kebakaran dilakukan melalui dua metode sekaligus, yakni operasi darat dan operasi udara. Tim di lapangan berupaya mempersempit ruang gerak api dengan membuat sekat bakar serta melakukan pembasahan terhadap kawasan yang memungkinkan untuk dijangkau.
Petugas juga menggunakan peralatan manual seperti gepyok dan mengerahkan armada tangki untuk menyiram area yang terbakar maupun lokasi yang berpotensi menjadi jalur penyebaran api.
Untuk mempercepat pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau dari darat, pemerintah mengerahkan tiga unit helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Helikopter tersebut digunakan dalam operasi water bombing dengan sasaran utama kawasan Pusung Duwur, Dingklik. Pelaksanaan penerbangan dilakukan secara bergantian dengan mempertimbangkan standar operasional keselamatan penerbangan.
Dalam operasi terbaru, tiga helikopter tersebut melakukan 16 rit dalam lima sortie dengan total sekitar 37.000 liter air yang dijatuhkan ke lokasi sasaran.
“Operasi water bombing dilaksanakan dengan tiga unit Heli dari BNPB diatur bergantian mengikuti SOP penerbangan, dengan total 16 Rit 5 Sortie atau sebanyak 37.000 liter,” beber Sadono.
Jika dihitung sejak operasi pemadaman melalui udara dimulai, total air yang telah dijatuhkan melalui water bombing hingga Selasa (11/8/2026) mencapai sekitar 205.800 liter.
Operasi udara juga diperkuat dengan penggunaan drone water spray milik BPBD Jawa Timur. Peralatan tersebut dimanfaatkan untuk membantu membasahi titik-titik panas atau hot spot yang masih terpantau serta mengantisipasi munculnya kembali bara api.
Cuaca Jadi Kendala
Meski pemadaman terus dilakukan, kondisi cuaca dan medan masih menjadi hambatan utama. Kabut tebal serta kepulan asap di sekitar lokasi kebakaran menyebabkan jarak pandang menuju titik sasaran berkurang.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap efektivitas operasi water bombing. Pilot harus menyesuaikan pelaksanaan penerbangan dengan kondisi aktual di lapangan untuk menjaga keselamatan operasi.
“Kabut dan kepulan asap menyebabkan operasi Water Bombing tidak bisa dimaksimalkan karena visibilitas yang kurang menuju titik target operasi,” jelas Sadono.
Selain jarak pandang, hembusan angin yang cukup kencang juga berpotensi memengaruhi arah pergerakan api. Kondisi medan yang terjal pada sejumlah titik turut menyulitkan petugas yang melakukan pemadaman secara manual.
Karena itu, strategi penanganan tidak hanya difokuskan pada pemadaman api yang terlihat, tetapi juga pada upaya mencegah bara dan titik panas berkembang kembali.
Tim darat dijadwalkan melakukan pemantauan serta pemetaan ulang titik api pada Rabu (12/8/2026). Langkah tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran terbaru mengenai lokasi yang masih terbakar, area yang telah berhasil dikendalikan, serta potensi munculnya titik api baru.
Koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga akan ditingkatkan. Informasi mengenai kondisi cuaca, termasuk potensi pertumbuhan awan dan perubahan angin, diperlukan untuk menentukan strategi operasi pemadaman udara.
Akses Wisata Bromo Ditutup
Di tengah penanganan kebakaran, akses menuju kawasan wisata Gunung Bromo masih ditutup sementara. Penutupan dilakukan sejak Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB sebagai bagian dari langkah pengamanan sekaligus mendukung proses penanganan kebakaran.
Sejumlah pintu masuk yang ditutup meliputi Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro.
Penutupan tersebut berlaku hingga ada pemberitahuan lebih lanjut mengenai kondisi keamanan kawasan. Pemerintah dan pengelola kawasan masih mempertimbangkan perkembangan kebakaran, kondisi cuaca, serta hasil pemantauan tim di lapangan sebelum membuka kembali akses wisata.
Dengan luas area terdampak yang masih dalam proses pendataan dan sejumlah titik api yang belum sepenuhnya padam, penanganan kebakaran TNBTS diperkirakan masih membutuhkan pengerahan personel dan peralatan secara berkelanjutan.
Tim gabungan saat ini terus memprioritaskan pengendalian titik api, pendinginan area yang telah terbakar, serta pencegahan agar kobaran tidak meluas ke wilayah lain di sekitar kawasan TNBTS.



