Kadin Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah pada Ekonomi RI

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha Indonesia.

Konflik yang berpotensi berkepanjangan dinilai dapat mengganggu stabilitas ekonomi global sekaligus memberi tekanan terhadap perekonomian nasional.

- Advertisement -

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sarman Simanjorang mengatakan dunia usaha saat ini mencermati perkembangan situasi tersebut karena berpotensi memengaruhi rantai pasok energi serta kondisi ekonomi global.

“Pengusaha dalam hal ini harap-harap cemas apabila perang ini berkepanjangan. Karena akan mempengaruhi ekonomi global dan ekonomi seluruh dunia termasuk Indonesia,” ungkap Sarman kepada Beritasatu.com, Jumat (6/3/2026).

Menurut Sarman, setidaknya ada tiga sektor utama yang perlu diantisipasi pemerintah agar dampaknya tidak meluas terhadap perekonomian nasional.

- Advertisement -

Pertama, terkait pasokan bahan bakar minyak (BBM).

Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sekitar setengah dari kebutuhan minyak domestik, terutama dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, dan Irak.

Jalur distribusi minyak dari kawasan tersebut sebagian besar melalui Selat Hormuz yang kini berada dalam situasi rawan akibat ketegangan militer.

Gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi menghambat distribusi energi. Laporan yang beredar menyebutkan puluhan kapal tanker tertahan di wilayah itu, termasuk beberapa kapal milik Pertamina.

Kedua, sektor pasokan gas.

Sejumlah industri dalam negeri seperti keramik dan pupuk sangat bergantung pada gas sebagai sumber energi utama untuk kegiatan produksi.

Selain itu, puluhan juta rumah tangga di Indonesia juga menggunakan LPG 3 kilogram untuk kebutuhan sehari-hari, sementara sebagian pasokan gas nasional masih berasal dari impor yang jalurnya melewati kawasan yang sama.

Ketiga, tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ketidakpastian geopolitik global biasanya memicu gejolak di pasar keuangan internasional.

Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah dilaporkan mendekati level Rp17.000 per dolar AS.

Sarman menilai jika situasi tersebut tidak segera diantisipasi, biaya produksi industri berpotensi meningkat, terutama bagi sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi aktivitas dunia usaha dan daya saing industri nasional.

Karena itu, kalangan pengusaha berharap pemerintah segera menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus menjaga kondisi ekonomi domestik tetap terkendali.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Bintang Eropa Bersaing Rebut Ballon d’Or 2026

JCCNetwork.id-Persaingan menuju penghargaan Ballon d’Or 2026 mulai mengerucut dengan sejumlah nama yang masuk dalam daftar kandidat terkuat. Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober 2026,...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER