JCCNetwork.id- Sebanyak 21 warga Palestina yang menderita kondisi kesehatan kritis meninggalkan Jalur Gaza yang terkepung untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri. Langkah ini dilakukan melalui koordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di tengah situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah tersebut.
“Sekitar 21 warga Palestina yang sakit dan terluka, menderita kondisi kesehatan yang sulit, meninggalkan Gaza untuk menerima perawatan di luar negeri,” kata seorang sumber medis yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Anadolu.
Para pasien ini, yang telah menunggu kesempatan untuk mendapatkan perawatan yang tidak tersedia di Gaza, akhirnya bisa meninggalkan daerah kantong yang diblokade tersebut melalui penyeberangan Kerem Shalom di Gaza selatan. Upaya ini dimungkinkan berkat kerjasama antara WHO dan Israel, yang membuka jalur untuk evakuasi medis.
Krisis Kesehatan di Tengah Blokade
Sebelumnya, pada 23 Juni, enam anak Palestina juga meninggalkan Gaza untuk perawatan medis yang sangat dibutuhkan di luar negeri, juga dengan bantuan WHO. Kondisi di Gaza semakin kritis, dengan ribuan warga Palestina yang sakit dan terluka berada dalam risiko tinggi akibat blokade yang mencekik akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Menurut laporan dari kantor media pemerintah Gaza, blokade yang dilakukan Israel telah memperburuk situasi kesehatan di wilayah tersebut. Ribuan orang tidak bisa mendapatkan perawatan medis yang memadai, dan banyak yang menghadapi risiko kematian karena keterbatasan fasilitas medis di Gaza.
Kecaman Internasional terhadap Tindakan Israel
Situasi ini terjadi di tengah-tengah kecaman internasional terhadap Israel, yang dianggap mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera. Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober lalu, serangan brutal yang dilakukan oleh Israel terus berlanjut, menyebabkan penderitaan yang luar biasa di Gaza.
Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa lebih dari 37.700 warga Palestina telah tewas, dengan sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak. Selain itu, hampir 86.400 orang lainnya terluka akibat serangan yang tak kunjung usai.
Setelah lebih dari delapan bulan sejak serangan Israel dimulai, sebagian besar wilayah Gaza kini hancur. Blokade yang melumpuhkan telah menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Israel di Hadapan Mahkamah Internasional
Israel saat ini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional. Keputusan terbaru dari pengadilan tersebut memerintahkan Israel untuk segera menghentikan operasinya di kota Rafah, di selatan Gaza, di mana lebih dari 1 juta warga Palestina telah mencari perlindungan sebelum serangan intensif pada tanggal 6 Mei.
Situasi di Gaza semakin memburuk dan bantuan internasional menjadi sangat penting. Sementara itu, keberangkatan 21 warga Palestina untuk perawatan medis ini memberikan sedikit harapan di tengah kegelapan krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.


