JCCNetwork.id-Bergulirnya FIFA World Cup 2026 tetap disambut antusias oleh masyarakat Palestina di Tepi Barat meskipun Tim Nasional Palestina tidak berhasil mengamankan tempat di putaran final turnamen tersebut.
Bagi banyak warga, sepak bola masih menjadi sarana hiburan sekaligus pelarian dari tekanan kehidupan di tengah konflik yang berkepanjangan.
Di Desa Umm al-Khair, kawasan Masafer Yatta, selatan Hebron, anak-anak tetap bermain sepak bola di lapangan sederhana yang berdekatan dengan pagar kawat berduri.
Warga setempat menyebut aktivitas bermain kerap terganggu ketika bola keluar lapangan dan masuk ke area sekitar permukiman Israel.
Menurut keterangan warga, sejumlah bola yang keluar lapangan tidak dapat dikembalikan sehingga pertandingan sering terhenti.
Mereka mengaku kejadian serupa telah berulang kali terjadi dan menyebabkan komunitas setempat kehilangan puluhan bola sepak dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, aktivitas sepak bola juga terus berlangsung di Kota Nablus.
Anak-anak dan remaja dari akademi sepak bola lokal masih menjalani latihan rutin di stadion kota meski sebagian fasilitas olahraga dilaporkan mengalami kerusakan akibat minimnya perawatan selama masa konflik.
Di area stadion, sejumlah warga Palestina asal Gaza yang berada di Tepi Barat sejak pecahnya perang pada Oktober 2023 terlihat menyaksikan sesi latihan.
Sebagian dari mereka kini menempati fasilitas stadion sebagai tempat tinggal sementara.
Manajemen stadion menyatakan warga Gaza tersebut memilih bertahan di Tepi Barat karena kondisi keamanan di Jalur Gaza masih belum memungkinkan untuk kembali.
Ruang ganti stadion pun dimanfaatkan sebagai tempat penampungan sementara bagi beberapa keluarga.
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Palestina masih menghentikan kompetisi liga domestik sejak perang berlangsung.
Situasi keamanan, operasi militer, penangkapan, serta banyaknya pos pemeriksaan di sejumlah wilayah menjadi kendala utama penyelenggaraan kompetisi secara normal.
Penghentian liga berdampak pada berkurangnya aktivitas di sejumlah stadion yang sebelumnya aktif digunakan untuk pertandingan.
Namun, latihan tim dan pembinaan usia muda tetap berjalan di beberapa lokasi, termasuk Stadion Internasional Faisal Al-Husseini di Al-Ram yang menjadi markas Timnas Palestina.
FIFA sebelumnya juga memindahkan laga kandang Timnas Palestina ke sejumlah negara, antara lain Yordania, Qatar, dan Malaysia, dengan pertimbangan keamanan.
Selain itu, badan sepak bola dunia tersebut tetap memberikan dukungan pendanaan kepada Federasi Sepak Bola Palestina.
Di tengah terhentinya kompetisi resmi, kegiatan latihan dan pembinaan sepak bola dinilai menjadi ruang penting bagi anak-anak dan remaja untuk berolahraga serta menjaga interaksi sosial.
Saat perhatian dunia tertuju pada Piala Dunia 2026, sepak bola tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Palestina di Tepi Barat.























