Sulteng Minim Risiko Kekeringan Ekstrem Akibat Fenomena Non-Zom

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa potensi kekeringan ekstrem di Sulawesi Tengah (Sulteng) sangat kecil.

Provinsi ini tergolong daerah non-zom, yang berarti tidak memiliki perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau.

- Advertisement -

“Sejak bulan Mei lalu mulai masuk musim kemarau secara menyeluruh di Indonesia, tetapi untuk Sulteng masuk dalam kategori kemarau basah di pengaruhi oleh non-zom,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis-Aljufi Palu Nur Alim di Palu, Rabu.

Meski sedang berada di musim kemarau, Sulteng masih sering diguyur hujan dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga lebat.

Oleh karena itu, kecil kemungkinan terjadi kekeringan ekstrem di wilayah ini.

- Advertisement -

Namun demikian, BMKG mencatat ada tiga daerah di Sulteng yang berpotensi mengalami dampak kemarau meskipun tidak signifikan, yakni Kabupaten Poso, Morowali Utara, dan Morowali.

“Artinya meski terjadi terik matahari, tetapi dalam sepekan biasanya masih terjadi hujan dengan intensitas ringan, sedang, hingga lebat,” ujarnya.

BMKG juga mencatat bahwa cuaca di Sulteng tidak konsisten dan dapat berubah dari cerah menjadi hujan secara tiba-tiba, sebuah fenomena yang biasa terjadi di daerah non-zom.

“Secara normatif puncak kemarau di Sulteng terjadi pada pertengahan Agustus hingga pertengahan September 2024, namun karena kemarau basah maka intensitas curah hujan masih signifikan terjadi,” tutur Alim.

Alim menjelaskan bahwa meskipun awal musim kemarau telah dimulai, intensitas hujan di Sulteng masih tinggi.

Ini disebabkan oleh pertumbuhan siklon tropis di bagian utara Indonesia atau sekitar Filipina, yang menyebabkan perlambatan massa udara di atas Pulau Sulawesi, sehingga mempercepat pembentukan awan hujan.

“Dari pengamatan kami, khusus daerah Parigi Moutong dan Sigi tetap waspada terkait potensi dampak bencana hidrometeorologi meteorologi, seperti tanah longsor dan banjir bandang, terutama warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai dan lereng gunung,” ucapnya.

BMKG mengingatkan agar warga di daerah Parigi Moutong dan Sigi tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan lereng gunung.

Untuk mengantisipasi situasi buruk, BMKG mengimbau pemerintah daerah agar meningkatkan mitigasi terhadap masyarakat.

“BMKG sebagai otoritas yang mengeluarkan peringatan dini cuaca terus berkolaborasi dengan pemerintah dan pihak-pihak lainnya, menyampaikan hasil pengamatan untuk dijadikan pertimbangan dalam mengantisipasi potensi-potensi bencana alam. Kami juga mengimbau masyarakat tidak perlu panik, namun tetap memperhatikan kondisi alam saat beraktivitas,” katanya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Longsor Tutup Akses Dieng di Banjarnegara

JCCNetwork.id- Akses menuju kawasan wisata dataran tinggi Dieng dari arah Kabupaten Banjarnegara terputus total setelah terjadi longsor tebing setinggi sekitar 30 meter di Desa...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER